Kemegahan Abon-abon Grebeg Besar Demak 2026 Hidupkan Spirit Kota Wali

Suasana khidmat Prosesi Abon-abon Grebeg Besar Demak 2026 di Pendopo Notobratan Kadilangu, Minggu (24/5), saat rombongan Kasunanan Surakarta Hadiningrat bersama jajaran Pemkab Demak mengikuti rangkaian serah tinampi minyak jamas pusaka peninggalan Kesultanan Demak. Foto: ist.
ARUSUTAMA.com – Tradisi adat Abon-abon kembali digelar dengan khidmat dalam rangkaian Grebeg Besar Demak 2026 di Pendopo Notobratan Kadilangu, Minggu (24/5). Prosesi sakral penghantaran minyak jamas dari Kasunanan Surakarta Hadiningrat itu tidak hanya sebagai warisan budaya tahunan, tetapi juga simbol kuat persatuan dan penghormatan terhadap leluhur.
Ribuan masyarakat tampak memadati kawasan Kadilangu untuk menyaksikan jalannya prosesi yang berlangsung meriah. Kehadiran prajurit dari berbagai kesatuan dengan busana adat khas masing-masing menjadi daya tarik tersendiri dalam tradisi yang telah diwariskan selama ratusan tahun tersebut.

Minyak jamas yang dibawa rombongan Kasunanan Surakarta nantinya digunakan untuk Penjamasan Pusaka Kutang Ontokusumo dan Keris Kyai Carubuk, pusaka bersejarah peninggalan Kesultanan Demak yang setiap tahun dijamas dalam rangkaian Grebeg Besar.
Prosesi serah tinampi minyak jamas dari Pakubuwono XIV, KGPAA Hamangkunegoro atau Gusti Purbaya, serta KGPHA Dipokusumo diterima langsung oleh sesepuh ahli waris Kanjeng Sunan Kalijaga, H.R Muhammad Cahyo Iman Santoso di Pendopo Notobratan Kadilangu.
Bupati Demak, Eisti’anah bersama jajaran Pemerintah Kabupaten Demak turut hadir menghaturkan uborampe telesan dan Gunungan Hasil Bumi sebagai bentuk sinergi antara pemerintah daerah dan ahli waris Sunan Kalijaga dalam menjaga warisan budaya leluhur.
“Pemerintah Kabupaten Demak akan terus mendukung pelestarian tradisi Grebeg Besar dengan tetap menjaga marwah dan pakem budaya yang diwariskan turun-temurun,” ujar Eisti’anah.
Menurutnya, Grebeg Besar bukan sekadar agenda budaya tahunan, melainkan bagian penting dari identitas masyarakat Demak sebagai Kota Wali.

Kemeriahan prosesi semakin terasa saat Prajurit Bintoro dan Prajurit Patiunus bersinergi bersama prajurit Kasunanan Surakarta Hadiningrat serta Sentono Abdi Dalem Ahli Waris Sunan Kalijaga mengawal iring-iringan rombongan Pakubuwono XIV menuju Pendopo Notobratan.
Koordinator Prajurit, Sunu, menegaskan bahwa keterlibatan para prajurit dalam prosesi adat tersebut merupakan bentuk penghormatan terhadap sejarah dan budaya leluhur.
“Momentum Abon-abon bukan hanya tradisi budaya, tetapi juga simbol persatuan, kekompakan, dan penghormatan kepada para leluhur,” katanya.
Selain prosesi penghantaran minyak jamas, perhatian masyarakat juga tertuju pada Gunungan Hasil Bumi yang diarak dalam prosesi Abon-abon. Gunungan yang tersusun dari berbagai jenis palawija itu menjadi simbol rasa syukur atas limpahan hasil bumi sekaligus lambang harmonisasi antara pemerintah daerah dan masyarakat adat Kadilangu.
Tradisi perebutan gunungan pun berlangsung semarak. Warga tampak antusias berebut hasil bumi yang dipercaya membawa keberkahan setelah didoakan dalam prosesi adat tersebut.

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Demak, Endah Cahya Rini, menyebut momen bersatunya prajurit Demak dan Kasunanan Surakarta dalam satu barisan menjadi pemandangan bersejarah yang sarat makna kebersamaan.
“Ini menjadi bukti bahwa nilai persatuan, penghormatan, dan kebersamaan yang diwariskan leluhur masih terjaga dengan sangat baik hingga hari ini,” ujarnya.
Ia menambahkan, Grebeg Besar Demak memiliki potensi besar sebagai daya tarik wisata budaya dan religi di Jawa Tengah karena menghadirkan tradisi hidup yang masih dijaga kuat oleh masyarakat lintas generasi.

Selain menjadi tontonan budaya, Gunungan Hasil Bumi juga menyimpan filosofi mendalam. Pala Kapendem melambangkan asal-usul manusia, Pala Sampar menggambarkan perjalanan hidup manusia, sementara Pala Gumantung mengandung pesan agar manusia senantiasa bersyukur kepada Sang Maha Pencipta.
Melalui prosesi Abon-abon, masyarakat Demak kembali menegaskan bahwa tradisi leluhur bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan identitas budaya yang terus hidup dan dijaga dengan penuh kebanggaan hingga kini. (Sm)
