PB PMII Kecam Tayangan “Expose Uncensored” Trans7, Nilai Rugikan Marwah Pesantren

IMG-20251014-WA0021

Ketua Bidang OKP PB PMII, Muhammad Muhamtashir, menyampaikan sikap tegas mengecam tayangan “Expose Uncensored” Trans7 yang dinilai merugikan marwah pesantren dan dunia pendidikan Islam. Foto: ist.

ARUSUTAMA.com – Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII) melalui Bidang Organisasi Kemasyarakatan Pemuda (OKP) menyampaikan sikap tegas mengecam program “Expose Uncensored” yang ditayangkan Trans7.

Tayangan tersebut dinilai telah melakukan framing negatif dan menyebarkan informasi tidak benar (hoaks) terhadap lembaga pendidikan Islam, khususnya pondok pesantren.

Ketua Bidang OKP PB PMII, Muhammad Muhamtashir, menilai bahwa program tersebut tidak mencerminkan prinsip jurnalisme berimbang dan justru berpotensi menimbulkan stigma negatif terhadap dunia pesantren, yang selama ini menjadi benteng moral serta pendidikan karakter bangsa.

“Kami mengecam keras tayangan ‘Expose Uncensored’ Trans7 yang melakukan framing dan menggiring opini publik dengan informasi yang tidak diverifikasi secara utuh. Pesantren adalah lembaga pendidikan yang berperan besar dalam mencetak generasi berakhlak dan cinta tanah air, bukan objek sensasi media,” tegas Muhamtashir.

PB PMII menilai pemberitaan semacam itu tidak hanya merugikan salah satu pesantren, tetapi juga berpotensi menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap lembaga pendidikan Islam secara umum.

“Kami mendesak pihak Trans7 untuk segera menarik tayangan tersebut, menyampaikan permintaan maaf secara terbuka, dan menjalankan kode etik jurnalistik sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Pers serta Pedoman Dewan Pers,” lanjutnya.

Muhamtashir juga menegaskan bahwa PB PMII akan melaporkan Trans7 ke Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) karena konten yang disajikan diduga melanggar Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS).

“Hari ini kami laporkan ke KPI, karena tayangan tersebut diduga memuat unsur SARA, menyesatkan, dan memperkuat stereotip negatif terhadap pesantren,” ungkapnya.

Sebagai organisasi yang lahir dari rahim pesantren dan berkomitmen terhadap nilai-nilai keislaman serta kebangsaan, PB PMII menegaskan akan terus mengawal marwah pesantren dari segala bentuk fitnah, disinformasi, dan upaya delegitimasi.

“Kami mengingatkan seluruh insan pers agar tetap mengedepankan etika, akurasi, dan tanggung jawab sosial dalam setiap pemberitaan, khususnya yang menyangkut lembaga keagamaan,” pungkas Muhamtashir. (Sm)