Meriahnya Sedekah Laut Desa Betahwalang Sebagai Rasa Syukur Warga

Bupati Demak Hj Eisti'anah saat berikan sambutan dalam giat sedekah laut desa Betahwalang diatas perahu. Foto: khadafi
Demak, arusutama.com – Indonesia adalah negara yang kaya akan tradisi kebudayaan, tak terkecuali tradisi yang ada di desa Betahwalang, kecamatan Bonang, kabupaten Demak yakni Sedekah Laut dan Bumi, Sabtu (17/6/2023) belum lama ini.
Bupati Demak Hj Esti’anah saat berkunjung ke desa tersebut merasa takjub ketika melihat di sepanjang perjalanan menuju laut banyak hutan mangrove yang luar biasa bagus dan terjaga. Ia mengatakan, mungkin tahun depan desa Betahwalang bisa dijadikan objek wisata lewat hutan mangrove nya.
“Mari kita jaga bersama-sama, karena mangrove adalah salah satu upaya kita untuk menangani abrasi, mengurangi rob. Kita tidak bisa menolak apa yang alam berikan kepada kita, namun kita tetap terus berusaha mencegahnya agar tidak semakin parah,” ajaknya.
Selain itu, lanjut Eisti’anah, desa Betahwalang merupakan desa penghasil rajungan terbesar se-jawa tengah, dan tentunya itu menjadi kebanggaan tersendiri, harus tetap dijaga dan dikembangkan terus.
“Kita dari Pemerintah sangat mendukung, tentunya ini upaya kita bersama. Semoga lewat sedekah laut ini desa Betahwalang semakin makmur dan hasil tangkapan lautnya semakin melimpah dan berkah. Juga masyarakatnya semakin sehat dan sejahtera,” harap Bupati Demak.
Sementara itu, Kepala Desa Betahwalang, Abdullah Taufiq mengatakan sedekah bumi atau sedekah laut di desa Betahwalang, merupakan tradisi desa yang sudah ada turun temurun, menjadi kegiatan kultural budaya masyarakat Betahwalang.
Banyak rentetan kegiatan yang dihelat dalam sedekah laut tersebut, diantaranya dengan sebelumnya Ziarah ke makam muassis desa Mbah Demang Sadepo atau Mbah Musyafak, kemudian dilanjutkan tahtiman Al-Quran yang diikuti 120 hafidz hafidzah se Betahwalang, lanjut istighosah akbar, santunan anak yatim berjumlah 90 anak, setelah sedekah laut usai dilanjutkan dengan pertunjukan wayang kulit dengan lakon katentraman wahyu dan ditutup dengan pengajian Gandrung Nabi atau Betahwalang Bersholawat.
Menurut cerita dari Kepala Desa, bahwa Mbah Musyafak berasal dari Tuban datang ke desa Betahwalang melalui sungai Kalijajar dengan cara menyelam tanpa henti, dari sungai Kalijajar tersebut sampailah ke sungai Besar yang ada di desa Betahwalang. Ziarah merupakan bentuk penghormatan kepada pendiri desa atau sesepuh.
Lebih lanjut, Taufiq mengatakan bahwa Sedekah laut di desa Betahwalang tak sama dengan sedekah laut desa pesisir pada umumnya yang biasanya melakukan kegiatan larung atau menenggelamkan kepala kerbau. Namun berbeda dengan desa Betahwalang yang melakukan pembacaan manaqib kubro dengan dihadiri langsung oleh Bupati dan semua masyarakat desa Betahwalang.
“Kurang lebih ada 700 perahu yang ada di desa Betahwalang, dan yang hadir mencapai 400 an orang dengan membawa kegiatan adat seperti setiap perahu membawa ingkung sendiri-sendiri, di makan beserta dengan keluarga,” terang Taufiq sapaan akrabnya.
Ia berharap, dengan adanya kegiatan tersebut warga desa Betahwalang sadar, bahwa budaya yang baik harus tetap dilestarikan karena bagian dari rasa syukur kepada Allah SWT atas rizki yang diberikan dan masyarakat nelayan ketika berangkat ataupun pulang melaut diberi keselamatan.
“Yang dari tambak juga hasilnya melimpah, yang pedagang juga dilancarkan, intinya hal-hal yang berbau positif itu harapan kita semuanya dan warga kita menjadi desa yang loh jinawi, desa yang aman, tentram, maju dan sejahtera serta berkarakter religius atau agamis.” pungkasnya. (Sam)
