Banjir Tiga Bulan Tak Surut, PC ISNU Demak Desak Pemda Bertindak Cepat

Banjir menggenangi ruas jalan Demak-Bonang dan permukiman warga, menyebabkan aktivitas masyarakat terganggu dan akses transportasi terhambat. Foto: Sm
ARUSUTAMA.com – Banjir yang melanda lima kecamatan di Kabupaten Demak terus menjadi perhatian berbagai pihak, salah satunya di Kecamatan Bonang yang hingga kini masih terdampak cukup parah. Genangan air tidak hanya merendam permukiman dan lahan pertanian, tetapi juga mengganggu jalur ekonomi utama masyarakat.
Ketua PC Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kabupaten Demak, Agus Taufiqur Rohman, menyatakan keprihatinannya atas kondisi banjir yang terjadi di wilayah Bonang dan sekitarnya. Ia menilai, pemerintah daerah bersama seluruh pemangku kebijakan perlu segera mengambil langkah cepat dan nyata agar dampak banjir tidak semakin meluas.
“Jalur Demak–Bonang merupakan jalur ekonomi yang sangat produktif. Jika jalan tersebut terus-menerus terendam banjir dalam waktu lama, maka aktivitas ekonomi, sosial, dan sektor lainnya akan lumpuh,” ujar Agus, Kamis (15/1/2026).
Menurutnya, ISNU Demak telah melakukan kajian dan diskusi internal untuk menawarkan solusi penanganan banjir. Salah satu langkah penting yang dinilai mendesak adalah penggunaan pompa penyedot air untuk mempercepat pengurangan genangan banjir, khususnya di jalan utama. Air hasil penyedotan tersebut diusulkan dari Kali Londho dialirkan ke Kali Jajar agar tidak menggenang terlalu lama di badan jalan.
Selain pompanisasi, Agus juga mendorong normalisasi sejumlah sungai, di antaranya Kali Londho di Desa Bonangrejo, Kali Kripik Cilik di Dukuh Kaligawe Lor, serta Kalituntang Lama.
“Kami sangat berharap adanya empati dan kepedulian dari Pemerintah Kabupaten Demak dan seluruh pemangku kebijakan untuk segera menindaklanjuti kondisi ini. Warga sudah cukup lama terdampak banjir dan membutuhkan langkah konkret serta pasti dalam penanggulangan bencana,” tegasnya.
Keluhan serupa juga disampaikan warga Bonang, Nasikin, yang mewakili para petani dan pelaku tambak. Ia meminta pemerintah daerah hadir secara nyata, terutama di tengah musim hujan yang berpotensi memperparah kondisi banjir.
“Kalau tidak ada solusi yang jelas untuk jalur ekonomi ini, masyarakat Bonang bisa semakin miskin. Padahal visi pemerintah adalah mengurangi kemiskinan. Saat ini sawah-sawah sudah tenggelam, petani dan petambak mengalami kerugian besar,” ungkapnya.
Ia berharap pemerintah segera mengambil tindakan agar kerugian masyarakat tidak semakin meluas dan aktivitas ekonomi bisa kembali berjalan.
Diketahui, Jalan Demak–Bonang, tepatnya dari wilayah Polsek Bonang hingga perbatasan Tridonorejo–Purworejo, telah terendam banjir selama lebih dari tiga bulan, sehingga menghambat mobilitas warga dan distribusi ekonomi di wilayah tersebut. (Sam)
