Ratusan Warga Demak Rayakan Malam Selikur dengan Tradisi Unik Uweh-Uweh

Warga Kampung Domenggalan, Kelurahan Bintoro, Kabupaten Demak, saling menukar makanan saat mengikuti tradisi Uweh-Uweh pada malam ke-21 Ramadan. Tradisi turun-temurun ini digelar setiap tahun sebagai bentuk kebersamaan dan mempererat silaturahmi antarwarga. Foto: Sam
ARUSUTAMA.com – Suasana berbeda terlihat di Kampung Domenggalan, Kelurahan Bintoro, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, saat memasuki malam selikur atau malam ke-21 bulan Ramadan. Ratusan warga setempat berkumpul untuk melaksanakan tradisi unik yang dikenal dengan Uweh-Buweh atau Uweh-Uweh, yakni tradisi saling memberi dan menukar berbagai makanan maupun barang.
Tradisi yang telah berlangsung sejak zaman nenek moyang tersebut hingga kini masih terus dilestarikan oleh masyarakat. Kegiatan ini digelar setiap tahun tepat setelah waktu salat Maghrib di malam ke-21 Ramadan.
Dalam tradisi ini, warga dari berbagai kalangan mulai dari anak-anak, ibu-ibu hingga para bapak membawa aneka makanan, minuman, hingga barang sederhana untuk ditukar dengan warga lainnya. Suasana penuh keakraban terlihat saat mereka saling memilih dan menukar barang yang dibawa.
Salah satu warga, Devina, mengatakan tradisi weh-weh memberikan kebebasan kepada warga untuk membawa apa saja yang ingin dibagikan atau ditukar.
“Bebas saja, ada yang bawa sosis, es krim, kolak, pentol, pokoknya apa saja boleh. Di malam 21 Ramadan kita menyebutnya weh-weh, saling tukar menukar makanan. Ini sudah dari dulu, sudah menjadi tradisi kampung sini,” ujarnya, Selasa (10/3/2026).
Hal senada disampaikan warga lainnya, Afifatul, yang mengaku mendapatkan berbagai macam makanan dari kegiatan tersebut, mulai dari minuman ringan, jajanan hingga keripik.
Menurutnya, tradisi tersebut sangat unik dan memberikan pengalaman berkesan, terlebih ia merupakan pendatang dari Banjarnegara.
“MasyaAllah sekali, mengikuti tradisi di sini sangat menyenangkan. Saya belum pernah menemukan tradisi seperti ini di tempat lain, baru kali ini ada di Demak. Kerukunannya, kebersamaannya, dan persatuannya luar biasa,” katanya.
Sementara itu, tokoh masyarakat setempat Muhammad Asep Mudhofar menjelaskan bahwa tradisi weh-weh memiliki makna mendalam sebagai sarana mempererat tali silaturahmi antarwarga sekaligus menjadi bagian dari syiar Islam di bulan suci Ramadan.
“Ini untuk mempererat ukhuwah islamiyah. Setiap tahun sekali, tepat malam 21 Ramadan setelah Maghrib, warga berkumpul untuk saling memberi atau menukar makanan. Tradisi ini sudah sangat lama, bahkan sejak dulu sebelum saya lahir,” ungkapnya.
Ia menambahkan, tradisi tersebut juga menjadi ajang memperkenalkan warga baru atau perantau yang pulang kampung agar saling mengenal satu sama lain.
Menurutnya, nilai utama dari tradisi weh-weh adalah memperkuat keakraban dan menjaga tali persaudaraan di tengah masyarakat. Hal itu juga sejalan dengan ajaran Islam sebagaimana hadis Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya ia menyambung tali silaturahim.”
“Yang terpenting adalah silaturahminya. Kalau saya tadi membawa es krim, mungkin itu favorit anak-anak,” pungkasnya.
Tradisi weh-weh pun adalah bukti bahwa kearifan lokal masyarakat Demak masih tetap terjaga, sekaligus memperkuat nilai kebersamaan di tengah bulan suci Ramadan. (Sm)
