Cegah Lonjakan Perokok Remaja, Dinkesda Demak Perkuat Program UBM

Petugas kesehatan mengikuti Rapat Koordinasi Program Upaya Berhenti Merokok (UBM) yang digelar Dinkesda Kabupaten Demak, guna memperkuat sinergi lintas fasilitas kesehatan dalam menekan angka perokok, khususnya di kalangan remaja. Foto: ist.
ARUSUTAMA.com – Dinas Kesehatan Daerah (Dinkesda) Kabupaten Demak menggelar Pertemuan Koordinasi Program Upaya Berhenti Merokok (UBM) di Aula Eks Keuangan Dinkesda. Kegiatan ini sebagai langkah untuk memperkuat sinergi lintas fasilitas pelayanan kesehatan dalam menekan prevalensi perokok, khususnya di kalangan remaja.
Pertemuan tersebut melibatkan Ketua Tim (Katim) dan Tim Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM) Dinkesda, anggota kluster UBM dari seluruh puskesmas se-Kabupaten Demak, serta pengelola program UBM dari rumah sakit.
Dalam forum tersebut, dibahas sejumlah isu penting, di antaranya indikator Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029 terkait persentase perokok usia 10–21 tahun. Selain itu, turut dipaparkan data prevalensi merokok berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) Tahun 2023, baik di tingkat Provinsi Jawa Tengah maupun Kabupaten Demak.
Pemerintah menargetkan penurunan prevalensi merokok sebesar 1 persen setiap tahun. Di sisi lain, cakupan skrining perilaku merokok pada usia 10–21 tahun ditargetkan meningkat hingga 10 persen per tahun. Skrining tersebut difokuskan pada kelompok usia sekolah dan remaja melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG).
Selain membahas target dan capaian, pertemuan juga mengulas alur pelaksanaan skrining serta tatalaksana berhenti merokok, termasuk penyesuaian terhadap kebijakan terbaru. Sistem pencatatan dan pelaporan program UBM Tahun 2026 turut menjadi perhatian, disertai evaluasi hasil konseling yang telah dilakukan di fasilitas pelayanan kesehatan.
Katim P2PTM Dinkesda Kabupaten Demak, Karjono, menegaskan pentingnya penguatan intervensi berbasis promotif dan preventif.
“Upaya berhenti merokok tidak bisa dilakukan secara parsial. Diperlukan kolaborasi antara puskesmas, rumah sakit, dan seluruh pemangku kepentingan agar intervensi yang dilakukan lebih efektif, terutama dalam menjangkau remaja sebagai kelompok rentan,” ujarnya.
Sementara itu, salah satu pengelola program UBM dari rumah sakit menyampaikan bahwa pendekatan konseling terus dikembangkan agar lebih adaptif dan berdampak.
“Kami mengoptimalkan pendekatan 4T dalam konseling berhenti merokok, sehingga pasien tidak hanya mendapatkan edukasi, tetapi juga pendampingan yang berkelanjutan untuk benar-benar lepas dari kebiasaan merokok,” ungkapnya.
Dinkesda Kabupaten Demak berharap, melalui kegiatan ini–implementasi program UBM dapat semakin terarah dan terukur, serta mampu memberikan kontribusi nyata dalam menciptakan generasi muda yang lebih sehat dan bebas dari rokok. (Sm)
