Sering Dianggap Penyakit Tua, Dokter Tegaskan Katarak Bisa Dialami Semua Usia

Dokter spesialis mata Lisana Himmatul Ulya saat menjadi narasumber talkshow kesehatan di Radio Suara Kota Wali Demak, menjelaskan bahwa penyakit katarak tidak hanya menyerang lansia, tetapi juga dapat terjadi pada bayi hingga orang dewasa. Foto: ist.
ARUSUTAMA.com – Penyakit katarak selama ini kerap dianggap hanya menyerang orang lanjut usia. Namun faktanya, katarak dapat terjadi pada siapa saja, mulai dari bayi yang baru lahir hingga orang dewasa.
Hal tersebut disampaikan dokter spesialis mata, Lisana Himmatul Ulya, saat menjadi narasumber dalam talkshow kesehatan di Radio Suara Kota Wali, Demak.
Menurut Lisana, masih banyak masyarakat yang mengaitkan katarak semata-mata dengan faktor usia. Padahal kondisi tersebut tidak terbatas pada kelompok usia tertentu.
“Selama ini masyarakat sering mengaitkan katarak dengan faktor usia. Padahal, kondisi tersebut juga dapat terjadi pada bayi, anak-anak hingga dewasa muda. Dengan kata lain, katarak tidak memandang usia,” jelasnya, Jumat (13/3/2026).
Dokter mata yang bertugas di RSUD SUKA tersebut menjelaskan, gangguan penglihatan akibat katarak berbeda dengan rabun jauh maupun rabun dekat. Pada rabun jauh atau rabun dekat, gangguan penglihatan umumnya disebabkan oleh perbedaan bentuk atau panjang bola mata yang menyebabkan mata minus atau plus.
Sementara itu, pada katarak masalah utama terjadi pada lensa mata yang menjadi keruh sehingga mengganggu penglihatan.
“Pada katarak, lensa mata mengalami kekeruhan sehingga cahaya yang masuk ke mata tidak dapat difokuskan dengan baik,” ujar Lisana.
Ia menerangkan, gejala katarak umumnya cukup khas. Penderita biasanya merasakan penglihatan seperti tertutup kabut atau terlihat buram. Selain itu, mata juga sering merasa silau saat melihat cahaya. Lampu atau sumber cahaya kerap tampak berpendar, menyebar, atau terlihat berkilau.
Meski demikian, Lisana menegaskan bahwa katarak tidak selalu dapat dipastikan hanya dengan pengamatan biasa. Kadang seseorang melihat bagian mata yang tampak putih atau keruh, namun kondisi tersebut belum tentu merupakan katarak.
“Bagian putih tersebut bisa saja berada di bagian bening mata, pada lensa, atau bahkan di bagian mata yang lebih dalam. Oleh karena itu, pemeriksaan oleh tenaga medis diperlukan untuk memastikan diagnosis secara tepat,” tuturnya.
Melalui pemeriksaan medis, dokter dapat menentukan apakah katarak masih berada pada tahap awal, sudah berkembang, atau bahkan telah mencapai tahap matang. Setiap tahap memerlukan penanganan yang berbeda sehingga pemeriksaan sejak dini sangat dianjurkan.
Lisana menambahkan, hingga saat ini satu-satunya metode penanganan yang efektif untuk katarak adalah melalui operasi. Namun pada tahap awal, tindakan operasi biasanya belum langsung dilakukan.
Dokter umumnya akan melakukan pemantauan serta memberikan saran untuk menjaga kesehatan mata agar perkembangan kekeruhan tidak semakin cepat. Operasi baru dilakukan apabila kondisi katarak sudah cukup mengganggu aktivitas dan penglihatan pasien.
“Dengan perkembangan teknologi medis, operasi katarak termasuk tindakan yang relatif aman dan memiliki tingkat keberhasilan tinggi apabila dilakukan oleh tenaga medis yang berpengalaman,” jelasnya.
Ia pun mengimbau masyarakat untuk rutin melakukan pemeriksaan mata secara berkala agar katarak dapat terdeteksi lebih dini dan mendapatkan penanganan yang tepat.
“Pemeriksaan mata secara rutin sangat penting agar katarak bisa diketahui sejak awal dan tidak sampai mengganggu kualitas hidup,” pungkasnya. (Sm)
