Krisis Minyak Goreng Bayangi Demak, Harga Tembus Rp20 Ribu per Liter

Harga minyak naik

Pedagang sembako di Pasar Bintoro Demak melayani pembeli di tengah lonjakan harga kebutuhan pokok, termasuk minyak goreng yang kian mahal dan mulai langka di pasaran. Foto: ist.

ARUSUTAMA.com – Kenaikan harga minyak goreng merek Minyakita di pasaran kian meresahkan pedagang dan konsumen. Harga jual yang kini mencapai Rp20.500 per liter jauh melampaui harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp15.700 per liter.

Tak hanya mengalami lonjakan harga, ketersediaan minyak goreng juga mulai langka. Kondisi ini membuat pedagang kesulitan mendapatkan stok, sementara konsumen harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Salah satu pedagang di Pasar Bintoro Demak, Ika Yuliani, mengungkapkan bahwa kenaikan harga terjadi secara bertahap dalam beberapa pekan terakhir. Ia kini menjual Minyakita seharga Rp20.500 per liter, naik dari sebelumnya Rp19.000 per liter. Selain itu, pasokan barang juga semakin terbatas.

“Biasanya saya kulakan 20 sampai 30 karton, tapi sekarang barangnya sulit. Hari ini saya minta 10 dus, hanya dapat 5 dus,” ujarnya, Kamis (2/4/2026).

Ia juga menyebut sejumlah merek minyak goreng lain seperti Harumas dan Sovia mulai menghilang dari pasaran. Sementara itu, merek seperti Sunco dan Amago masih tersedia, meski harganya ikut mengalami kenaikan.

Menurut Ika, lonjakan harga ini diduga dipicu oleh faktor global, termasuk konflik di Timur Tengah yang berdampak pada distribusi dan harga komoditas. Ia mengaku kenaikan mulai terasa sejak situasi tersebut memanas.

Meski harga terus naik, permintaan minyak goreng tetap tinggi. Hal ini disebabkan sebagian besar pembeli merupakan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) seperti penjual martabak dan gorengan yang sangat bergantung pada minyak goreng.

“Kalau harga kulakan naik, ya harga jual ikut naik. Tapi yang paling terdampak tetap konsumen,” katanya.

Kelangkaan stok juga semakin terasa. Jika sebelumnya 10 dus minyak dapat habis dalam empat hari, kini lima dus saja sudah habis dalam dua hari. Bahkan, distributor pun disebut mulai mengalami keterbatasan pasokan.

Sementara itu, pedagang angkringan, Udin, juga merasakan dampak signifikan dari kenaikan harga ini. Ia mengaku kini membeli Minyakita seharga Rp20.000 per liter, naik dari Rp18.000 per liter saat bulan puasa lalu.

“Kenaikan ini jelas berpengaruh ke penjualan. Untung masih ada, tapi semakin tipis,” ujarnya.

Ia menambahkan, meskipun penggunaan minyak belum dikurangi, ke depan tidak menutup kemungkinan ukuran gorengan akan diperkecil sebagai strategi untuk menekan biaya produksi.

Para pedagang berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk menstabilkan harga serta memastikan ketersediaan minyak goreng di pasaran, agar tidak semakin membebani masyarakat. (Sm)