Lewat KIE, Demak Optimistis Tekan Beban TPA hingga 60 Persen

Rapat koordinasi pengelolaan sampah digelar di Command Center Demak, melibatkan DLH bersama Kementerian Lingkungan Hidup RI dan sejumlah OPD guna memperkuat edukasi serta mendorong perubahan perilaku masyarakat dalam pengelolaan sampah. Foto: Sm
ARUSUTAMA.com – Pemerintah Kabupaten Demak melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) menggelar Rapat Koordinasi terkait Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) pengelolaan sampah bersama Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia, dan diikuti sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) terkait. Kegiatan tersebut berlangsung di Ruang Command Center, Selasa (31/03/2026).
Rapat dipimpin oleh Kepala DLH Demak, Mulyanto, serta dihadiri perwakilan Kementerian Lingkungan Hidup RI, Reno Arif. Turut hadir OPD lintas sektor, di antaranya BPBD, Dinputaru, Dinperkim, Satpol PP, Dinpermades P2KB, Bapperida, Dindagkop UKM, dan Dinkominfo.
Dalam paparannya, Mulyanto mengungkapkan bahwa Kabupaten Demak saat ini menghadapi tantangan serius dalam pengelolaan sampah. Hal tersebut dipicu oleh meningkatnya jumlah penduduk dan aktivitas ekonomi yang berdampak pada volume sampah.
Ia menjelaskan, rendahnya tingkat pemilahan sampah dari sumber menjadi salah satu persoalan utama. Akibatnya, sebagian besar sampah tercampur dan langsung dibuang ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).
“Hal ini menyebabkan beban pengelolaan di hilir semakin besar,” ujar Mulyanto.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa edukasi serta perubahan perilaku masyarakat dalam pengelolaan sampah masih perlu diperkuat. Menurutnya, literasi terkait pengelolaan sampah belum sepenuhnya terintegrasi dalam dunia pendidikan maupun aktivitas keseharian masyarakat.
Selain itu, kapasitas penyuluh, kader lingkungan, serta penggerak masyarakat dinilai masih terbatas dalam mendorong perubahan perilaku yang berkelanjutan.
Meski demikian, Mulyanto optimistis Kabupaten Demak memiliki potensi besar untuk meningkatkan sistem pengelolaan sampah. Dukungan pemerintah hingga tingkat desa, serta keterlibatan sekolah, pesantren, komunitas, dan dunia usaha menjadi modal penting dalam memperkuat program KIE.
“Melalui KIE, kita dapat mendorong perubahan perilaku masyarakat. Selain itu, pemilahan sampah dari rumah juga lebih efisien dari sisi biaya, mampu memperpanjang usia TPA hingga 50–60 persen, serta meningkatkan kualitas bahan baku daur ulang,” jelasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Mulyanto juga memaparkan visi dan misi Strategi Nasional (Stranas) KIE 2026–2029. Visi tersebut menitikberatkan pada pembangunan pemahaman, penerimaan, serta partisipasi aktif seluruh pemangku kepentingan dalam pengelolaan sampah berkelanjutan guna mencapai target pengelolaan sampah 100 persen.
Adapun misi yang diusung meliputi mendorong perubahan perilaku dari hulu, meningkatkan kepercayaan publik terhadap pemerintah, memperbaiki tata kelola pengelolaan sampah di daerah, serta mengonsolidasikan narasi nasional antara pemerintah pusat dan daerah. (Sm)
