Merawat Bumi, Menguatkan Perempuan: Festival Pesisir Demak Serukan Perubahan

Festival Iklim Puspita Bahari

Perempuan pesisir Demak mengikuti rangkaian Festival “Merawat (Ibu) Bumi dan Laut” di Desa Timbulsloko, Sabtu (18/4/2026), sebagai bentuk advokasi kolektif menyuarakan keadilan iklim dan ketahanan masyarakat pesisir di tengah ancaman banjir rob. Foto: ist.

ARUSUTAMA.com – Organisasi perempuan nelayan Puspita Bahari di Kabupaten Demak menggelar Festival “Perempuan Pesisir: Merawat (Ibu) Bumi dan Laut” sebagai ruang advokasi kolektif untuk menyuarakan keadilan iklim dan kesetaraan gender di wilayah pesisir.

Kegiatan yang berlangsung di Desa Timbulsloko ini menegaskan peran strategis perempuan sebagai garda terdepan dalam menghadapi krisis lingkungan yang semakin kompleks.

Berdiri sejak 2005 dengan anggota sekitar 100 orang, Puspita Bahari selama ini aktif mendampingi perempuan pesisir yang terdampak pembangunan ekstraktif dan bencana banjir rob. Kondisi tersebut tidak hanya memperparah kemiskinan, tetapi juga memicu persoalan sosial lain seperti kekerasan dalam rumah tangga, gangguan kesehatan reproduksi, hingga meningkatnya beban domestik perempuan.

Di tengah tekanan tersebut, perempuan pesisir Demak menunjukkan daya tahan dan inovasi melalui berbagai inisiatif berbasis komunitas. Di antaranya advokasi pengakuan identitas perempuan nelayan, pembentukan koperasi dan pengembangan produk olahan pesisir, distribusi pembalut kain ramah lingkungan, pembibitan mangrove, pengelolaan bank sampah, hingga pendampingan kasus kekerasan berbasis gender.

Ketua Puspita Bahari, Masnuah, menegaskan bahwa festival ini bukan sekadar seremoni, melainkan ruang perjuangan kolektif perempuan pesisir.

“Perempuan pesisir selama ini berada di garis depan menghadapi krisis iklim, tetapi suara kami sering diabaikan. Melalui festival ini, kami ingin menegaskan bahwa perempuan adalah bagian penting dari solusi, bukan sekadar korban,” ujarnya, Sabtu (18/4/2026).

“Kami terus berjuang membangun kemandirian melalui koperasi, menjaga lingkungan dengan mangrove, hingga mendampingi sesama perempuan yang mengalami kekerasan. Ini adalah bentuk nyata bahwa perempuan pesisir mampu memimpin perubahan di tengah krisis,” imbuhnya.

Festival ini mengusung tiga visi utama, yakni mengamplifikasi suara perempuan pesisir sebagai aktor kunci keadilan iklim, membangun ruang dialog antara masyarakat, pemerintah, dan akademisi, serta merayakan resiliensi melalui aksi pemulihan lingkungan dan ekspresi budaya.

Rangkaian kegiatan diawali dengan kirab dan ritual pemulihan bumi melalui panen kedaulatan pangan serta aksi tebar eco-enzyme di kawasan perairan terdampak rob. Agenda dilanjutkan dengan manifesto seni pesisir yang menampilkan tari “The Cangik”, pertunjukan Suara Ibu Peduli, serta peragaan busana eco-fashion oleh komunitas EMPU.

Puncak acara berupa Sarasehan Keadilan Iklim yang mempertemukan perempuan nelayan dari berbagai desa di Demak dengan pemangku kebijakan, termasuk perwakilan DPR dan dinas terkait. Forum ini sebagai ruang dialog untuk mendorong kebijakan pesisir yang lebih adil, inklusif, dan berperspektif gender.

Kegiatan ini turut melibatkan sekitar 150 perwakilan dari jaringan masyarakat sipil, seperti KIARA, PPNI, Walhi Jawa Tengah, LBH Semarang, Jakarta Feminist, hingga berbagai komunitas lokal dan organisasi pemuda. Dukungan juga datang dari GENERATE Project University of Leeds sebagai bagian dari kolaborasi global dalam isu keadilan iklim.

Festival ini menjadi simbol perlawanan sekaligus harapan, bahwa perempuan pesisir memiliki kekuatan untuk memimpin perubahan menuju masa depan yang lebih adil dan berkelanjutan.