Tradisi Ancakan dan Tumpeng Songo, Warisan Wali yang Masih Hidup di Demak

Tradisi Ancakan

Tradisi Ancakan di Pendopo Notobratan Kadilangu Demak, Kamis (5/6). Foto: Sam

ARUSUTAMA.com – Ribuan warga tumpah ruah di Pendopo Notobratan Kadilangu hingga halaman Masjid Agung Demak dalam perayaan akbar Grebeg Besar yang menjadi puncak tradisi tahunan menjelang Iduladha 1446 H, Kamis (5/6/2025) malam.

Dua prosesi budaya khas Demak—Ancakan dan Kirab Tumpeng Songo—kembali hadir menyemarakkan Grebeg Besar. Tradisi warisan Wali Songo ini masih jadi magnet spiritual dan budaya sejak ratusan tahun silam.

Tradisi Ancakan digelar setiap malam Iduladha sebagai wujud syukur warga Kadilangu atas pusaka warisan Wali, terutama keris Kyai Carubuk milik Sunan Kalijaga. Nasi ancak yang berisi ikan asin, urap, dan sayuran disajikan dalam wadah bambu, lalu dibagikan dan diperebutkan warga yang percaya akan berkahnya.

“Kami percaya, nasi ancak ini membawa berkah. Siapa pun yang mendapatkannya, akan mendapatkan keberuntungan sepanjang tahun,” ujar Suparmi (53), warga Karangmlati yang ikut dalam rebutan ancakan.

Suasana makin khidmat saat tembang Ilir-Ilir mengalun, dilanjut atraksi pencak silat dari PSHT yang memukau penonton. Doa bersama pun dipimpin para sesepuh. Plh. Bupati Demak bersama jajaran forkopimda hadir langsung, memukul gong sebagai tanda dimulainya acara, lalu menyuapi perwakilan warga—simbol sederhana tapi kuat tentang kedekatan pemimpin dengan rakyatnya.

“Tradisi ini adalah jembatan nilai-nilai leluhur yang harus terus kita hidupkan. Tidak hanya seremonial, tetapi sebagai penguat karakter masyarakat Demak yang agamis dan harmonis,” tegas Plh. Bupati Demak, Muhammad Badruddin, dalam sambutannya.

Usai Ancakan, prosesi berlanjut dengan arak-arakan Tumpeng Sembilan dari Pendopo Kabupaten menuju Serambi Masjid Agung Demak. Tumpeng-tumpeng tersebut, yang melambangkan sembilan tokoh Wali Songo, diusung dalam barisan tertib dan khidmat oleh pemuda-pemudi berbaju adat.

“Kami merasa bangga bisa ikut mengarak tumpeng. Ini bukan sekadar tradisi, tapi cara kami menghormati perjuangan para wali dalam menyebarkan Islam di Jawa,” kata Arif, pemuda peserta kirab dari Kecamatan Bonang.

Setibanya di masjid, tumpeng didoakan dan dibagikan kepada masyarakat. Prosesi ditutup dengan pengajian bertema “Melestarikan Budaya dengan Agama untuk Kesejahteraan Bersama”.

Ketua Takmir Masjid Agung Demak, KH. Nur Fauzi, menjelaskan bahwa tradisi ini sudah berlangsung sejak zaman Kesultanan Demak.

“Ini adalah bentuk akulturasi budaya Jawa dan Islam. Dulu para wali menyampaikan dakwah lewat budaya, agar lebih mudah diterima masyarakat,” jelasnya.

Senada dengan hal itu, Kepala Kemenag Demak, KH Taufiqur Rohman, mengatakan bahwa tradisi ini menjadi cara masyarakat menghidupkan kembali Lailatul ‘Ied, malam Iduladha, dengan doa dan dzikir.

“Melalui tradisi ini, kita menghidupkan kembali Lailatul ‘Ied dengan doa dan dzikir. Ini adalah bagian dari syiar yang khas Demak,” tegasnya.

Di tengah meriahnya acara, momen haru sempat terasa saat Plh. Bupati mengajak seluruh warga mendoakan Bupati Demak yang tengah menunaikan ibadah haji.

“Mari kita doakan beliau diberi kelancaran, kesehatan, dan pulang sebagai haji mabrur. Ini bagian dari kebersamaan spiritual kita sebagai warga Demak,” pungkas Gus Bad sapaan akrabnya. (Sm)