Immanuel Ebenezer: Belut Politik di Kolam Keruh

Immanuel Ebenezer: Belut Politik di Kolam Keruh

Wakil Menteri Ketenagakerjaan (Wamenaker) Immanuel Ebenezer (tengah) bersama tersangka lainnya berjalan menuju ruang konferensi pers usai terjaring OTT KPK di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Jumat (22/8/2025). Foto: Antara/Bayu PS

ARUSUTAMA.com – Immanuel Ebenezer bukanlah nama besar yang lahir dari mesin partai politik mapan. Ia juga bukan produk universitas elit yang melatih teknokrat cemerlang. Ia muncul dari jalur yang lebih khas Indonesia: jalan tikus menuju kekuasaan, melalui komunitas politik berbasis euforia sesaat.

Nama-nama komunitas yang ia pimpin terdengar seperti katalog fanclub musiman: dari Jokowi Mania, lalu Ganjar Mania, dan kini Prabowo Mania. Loyalitas tampaknya bukan prinsip, melainkan sekadar merek dagang yang bisa diganti sesuai tren.

Fenomena ini tentu bukan hal baru. Indonesia punya stok melimpah politisi “cair”—yang keberadaannya lebih mirip air mineral kemasan ketimbang mata air. Cair, mudah dipindahkan, dan selalu tersedia di rak kekuasaan. Di tangan orang seperti Immanuel, fleksibilitas politik dijual sebagai kecerdikan, meski bagi mata yang lebih tajam ia tak lebih dari oportunisme dengan kemasan modern.

Sosiolog politik klasik seperti Vilfredo Pareto dan Gaetano Mosca mungkin akan menganggap ini bukti hidup dari teori mereka tentang ‘circulation of elites’. Namun, di Indonesia, sirkulasi itu bukan berupa mekanisme alami, dan lebih menyerupai sirkus. Yang bertahan bukanlah mereka yang membawa ide besar, melainkan yang paling lincah melompat dari satu lingkaran api ke lingkaran api berikutnya.

Ebenezer, dalam hal ini, tampil sebagai akrobat ulung yang menguasai seni berpindah barisan tanpa pernah tampak kelelahan.

Tetapi setiap sirkus punya akhir pertunjukan. Politik Indonesia punya hukum besinya sendiri: integritas yang rapuh cepat atau lambat akan menagih harga. Massa yang dikumpulkan atas dasar fanatisme sesaat ibarat rumah kardus di musim hujan—tampak meriah saat kering, tetapi ambruk seketika saat badai kecil datang.

Tuduhan kasus hukum, kehilangan momentum, atau sekadar perubahan arah angin politik dapat meruntuhkan legitimasi dengan kecepatan yang memalukan. Dan di sinilah ironi itu menggigit.

Di republik dengan memori politik sependek notifikasi WhatsApp, politisi yang jatuh hari ini sering kali kembali ke panggung esok hari, disambut karpet merah, seolah-olah publik menderita amnesia kolektif. Politisi sejenis Immanuel bisa “mati berkali-kali” dan hidup kembali, karena sistem politik memberi ruang bagi kebangkitan tanpa penebusan.

Namun, jangan salah. Ini bukan semata soal Immanuel Ebenezer. Ia hanyalah gejala dari penyakit lama politik Indonesia: kita lebih menghargai kelincahan manuver daripada konsistensi gagasan. Elite yang bisa berpindah kubu dengan cepat dianggap strategis; sementara mereka yang berpegang pada prinsip justru dicap kaku, kolot dan tak lagi relevan.

Di tanah air ini, pragmatisme dipuja, integritas dijadikan bahan lelucon. Akhirnya, figur seperti Immanuel tak ubahnya soda murahan. Ia naik cepat, berbusa sebentar, lalu menguap, meninggalkan rasa hambar—dan sedikit rasa muak—di lidah publik.

Masalahnya, rak-rak kekuasaan selalu penuh dengan soda serupa. Hari ini satu botol dibuang, besok botol lain sudah siap dibuka.

Indonesia adalah republik yang ahli dalam memproduksi politisi cair: cepat naik, lebih cepat jatuh, tapi selalu kembali, seperti belut di kolam keruh yang tak pernah kehabisan lumpur untuk bersembunyi.

Abdul Hakim