Empat Bank Sampah Diresmikan di Tiga Desa Pesisir Demak

Puspita Bahari Bank Sampah Pesisir Demak

Komunitas perempuan pesisir bersama pemerintah desa dan fasilitator mengesahkan empat bank sampah di Desa Morodemak, Purworejo, dan Timbulsloko, Kabupaten Demak, sebagai upaya pengelolaan sampah berbasis masyarakat dan perlindungan ekosistem pesisir. Foto: Au

ARUSUTAMA.com – Pengelolaan sampah berbasis masyarakat di wilayah pesisir Kabupaten Demak semakin diperkuat dengan diresmikannya empat bank sampah di tiga desa pesisir. Kegiatan Pembentukan dan Pengesahan Bank Sampah tersebut berlangsung selama dua hari, 4–5 Februari 2026, di Desa Morodemak, Desa Purworejo, dan Desa Timbulsloko.

Empat bank sampah yang resmi disahkan yakni Bank Sampah Bumi Berseri 1 dan Bumi Berseri 2 di Desa Morodemak, Bank Sampah Sumber Rizki di Desa Purworejo, serta Bank Sampah Timbul Lestari di Desa Timbulsloko. Kehadiran bank sampah ini sebagai langkah konkret masyarakat pesisir dalam mengurangi pencemaran sampah sekaligus menjaga keberlanjutan ekosistem pesisir Demak.

Ketua Puspita Bahari, Masnu’ah, mengatakan bahwa pembentukan bank sampah merupakan bagian dari upaya memperkuat peran perempuan pesisir dalam menghadapi persoalan lingkungan dan krisis iklim.

“Bank sampah ini bukan hanya soal mengelola sampah, melainkan juga tentang bagaimana perempuan pesisir memimpin perubahan, menjaga lingkungan, dan memperjuangkan keadilan iklim serta gender secara nyata di wilayahnya,” ujar Masnu’ah, Minggu (8/2/2026).

Kegiatan ini difasilitasi oleh Sri Widayatuti dari Forum Demak Hijau (FDH) dengan menghadirkan narasumber Sudarwanto, dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Demak. Program ini merupakan bagian dari kerja sama Puspita Bahari dengan GENERATE Project, University of Leeds, bersama Andi Misbahul Pratiwi, mahasiswa Program Doktoral University of Leeds, dalam program bertajuk “Air Pasang dan Masa Depan yang Menjejak: Perempuan Pesisir Memimpin Keadilan Iklim dan Gender di Demak, Jawa Tengah”.

Sebagai bentuk penguatan kelembagaan, pemerintah desa masing-masing secara resmi menyerahkan Surat Keputusan (SK) Bank Sampah kepada komunitas pengelola. Penyerahan SK tersebut menandai legalitas dan pengesahan operasional bank sampah di tingkat desa.

Sekretaris Desa Morodemak, Moh. Syaifudin, menyambut baik terbentuknya dua bank sampah di wilayahnya.

“Kami berharap bank sampah ini mampu mendorong pemilahan sampah sejak dari rumah tangga, terutama di tingkat RT dan RW. Ke depan, hasil pengelolaan sampah juga bisa dimanfaatkan untuk kegiatan sosial melalui konsep sedekah sampah,” ujarnya.

Dari Desa Purworejo, Kepala Dusun Husnin Qomarudin menilai program bank sampah memiliki potensi besar untuk diperluas.

“Program ini sangat baik dan bisa dikembangkan ke dukuh lain. Tantangannya memang ada pada akses pengangkutan sampah karena harus melalui jalur laut, tetapi itu bisa kita cari solusinya bersama,” kata Husnin.

Sementara itu, Kepala Urusan Desa Timbulsloko, Herlina, menegaskan pentingnya keterlibatan perempuan dalam pengelolaan bank sampah.

“Perempuan pesisir tidak hanya berperan di ranah domestik. Melalui bank sampah, perempuan terbukti mampu mengambil peran strategis dalam menjaga lingkungan dan masa depan kampung,” tegasnya.

Keberadaan bank sampah ini memberikan dampak signifikan terhadap pengurangan timbulan sampah. Sudarwanto dari DLH Kabupaten Demak menjelaskan bahwa pengelolaan sampah berbasis bank sampah terbukti efektif.

“Dua bank sampah di Desa Morodemak mampu mengurangi hingga 70 persen dari potensi timbulan sampah harian yang mencapai sekitar 3 ton per hari, baik melalui pengelolaan sampah anorganik maupun pengomposan sampah organik,” jelas Sudarwanto.

Ia menambahkan, di Desa Purworejo khususnya Dukuh Tambapolo, bank sampah mampu mengurangi sekitar 210 kilogram sampah per hari dari total timbulan sekitar 300 kilogram.

“Sedangkan di Dukuh Timbulsloko, Desa Timbulsloko, dari sekitar 50 kilogram timbulan sampah per hari, pengelolaan bank sampah dan kompos mampu mengurangi sekitar 35 kilogram,” imbuhnya.

Setelah pengesahan, kegiatan dilanjutkan dengan pelatihan pengelolaan sampah organik yang difasilitasi oleh Sri Widayatuti dari Forum Demak Hijau. Materi pelatihan mencakup pembuatan eco enzyme dan kompos Takakura.

Menurut Sri Widayatuti, pengolahan sampah organik skala rumah tangga menjadi kunci pengurangan sampah di wilayah pesisir.

“Eco enzyme dan kompos Takakura mudah diterapkan di rumah. Dengan cara ini, sampah dapur tidak lagi menjadi masalah, tetapi justru memberi manfaat bagi lingkungan dan ekonomi keluarga,” jelasnya.

Melalui rangkaian kegiatan ini, bank sampah tidak hanya berfungsi sebagai sarana pengelolaan sampah, tetapi juga sebagai ruang pemberdayaan perempuan pesisir. Inisiatif ini diharapkan mampu memperkuat perlindungan ekosistem pesisir Demak, meningkatkan kesadaran lingkungan masyarakat, serta mendorong terwujudnya keadilan iklim dan gender yang berkelanjutan. (Sm)