Warga Karangrejo Serukan Dukungan Pemda untuk Membangun Kembali Pintu Air yang Layak

Pemdes Karangrejo bergotong royong bersama warga untuk menutup pintu air asin agar tak masuk di lahan persawahan. Foto: Ist.
ARUSUTAMA.com – Warga Desa Karangrejo, Kecamatan Bonang, Kabupaten Demak, telah menunjukkan kekompakannya dalam menghadapi masalah air asin yang mengancam pemukiman mereka. Dengan semangat gotong royong, mereka berinisiatif menutup pintu air yang rusak menggunakan bambu, terpal, dan karung berisi tanah.
Kepala Desa Karangrejo, Zakaria Abdullah, menyatakan, bahwa kegiatan ini adalah bukti kepedulian Pemdes Karangrejo. “Kami memohon Pemkab Demak untuk ikut serta membantu mengatasi masalah pintu pembatas air asin ini,” harapnya, Jumat (10/5).
Hal ini penting agar warga dapat kembali bercocok tanam padi seperti biasa, dan desa-desa lain di sekitarnya seperti Kembangan, Sumberejo, Sukodono, Krajanbogo dan lainnya juga dapat mengikutinya.
Desa Karangrejo, yang berperan sebagai benteng pembatas dari air asin ke air tawar, memerlukan dukungan yang lebih besar dari Pemerintah Daerah untuk membangun pintu pembatas permanen dan efektif.
Tokoh pemuda setempat, Wahid Ulin Nuha, menambahkan, bahwa di desa Karangrejo ada sekitar 60 persen sawah yang terdampak oleh air asin. “Kami tidak bisa menanam padi karena pintu yang rusak. Banyak yang gagal panen dan tidak bisa menggarap sawah kembali karena kemasukan air asin. Kami berharap Pemda dapat membantu pembangunan pintu air yang layak,” ungkapnya.
Karena ketidaklayakan pintu air yang ada, mereka bersama kelompok tani mendesak Pemda untuk secepatnya membantu dalam pembangunan pintu yang layak, sehingga kegiatan pertanian dapat berjalan kembali. Giat gotong royong ini dihadiri oleh pejabat desa, kelompok tani, Bhabinkamtibmas, Babinsa, dan masyarakat menandakan dukungan yang kuat dari berbagai pihak.
Kegiatan ini merupakan langkah penting bagi warga Karangrejo untuk mengatasi krisis air asin yang mereka hadapi. Dengan bantuan yang tepat dari Pemda, diharapkan mereka dapat kembali bercocok tanam dan menghidupkan kembali sawah-sawah mereka, seperti halnya desa-desa tetangga yang telah berhasil melakukan penanaman padi. (Sam)
