Prajurit Patangpuluhan dan Penjamasan Pusaka Jadi Magnet Grebeg Besar

Kirab budaya Prajurit Patangpuluhan

Parade budaya dan iring-iringan prajurit patangpuluhan dari Pendopo menuju Kadilangu, Jumat (6/6). Foto: Sm

ARUSUTAMA.com – Puncak Grebeg Besar Demak 1446 H benar-benar berbeda tahun ini. Bukan hanya karena iring-iringan prajurit Patang Puluhan yang selalu dinanti, tetapi karena sebanyak 522 “prajurit” lengkap dengan seragam tradisional turut mengawal Lurah Tamtomo dan ubo rampe penjamasan dari Pendopo Kabupaten menuju Makam Sunan Kalijaga di Kadilangu. Angka itu sengaja dipilih: Demak genap berusia 522 tahun.

Pagi hari, rombongan mulai bergerak dari Pendopo Kabupaten. Iringan gamelan terdengar nyaring, mengiringi langkah ratusan peserta yang membentuk barisan nyaris 300 meter panjangnya. Di tengah-tengahnya, tujuh ahli waris Sunan Kalijaga tampak khidmat membawa baki berisi minyak jamas—ramuan wewangian khas yang akan digunakan untuk menyucikan dua pusaka sakral peninggalan wali besar: Ageman Kotang Onto Kusumo dan Keris Kyai Carubuk.

Tiba di kompleks makam, para ahli waris, jajaran pejabat, dan tokoh masyarakat berkumpul membaca tahlil serta doa bersama. Juru kunci makam kemudian menaiki tangga pintu nisan dengan posisi jongkok—sebuah tata cara yang diwariskan turun-temurun—sebelum membuka gembok pintu utama.

Hanya tujuh orang pilihan yang diizinkan menyentuh pusaka. Mereka wajib berpuasa sejak 1 Dzulhijah hingga puasa sunah Tarwiyah dan Arafah—total sembilan hari—sebagai bentuk pembersihan diri.

“Filosofinya sederhana: sebelum menyucikan pusaka, hati dan pikiran kami harus lebih dulu bersih,” ujar Panembahan Kadilangu singkat, Jumat (6/6/2025).

Begitu prosesi selesai di Gedung Kasunanan (Sasono Gendong), suasana yang tadinya khidmat langsung berubah jadi ramai. Ratusan peziarah antusias mendekat, berebut ingin bersalaman dengan tim penjamas. Mereka percaya, sisa minyak jamas atau aroma pusaka yang masih menempel di tangan para ahli waris bisa membawa berkah dan keberuntungan sepanjang tahun—itulah yang disebut ngalab berkah.

Meski sarat nuansa sakral, Grebeg Besar Demak tahun ini juga tampil meriah dan makin terbuka untuk semua kalangan. Suasana makin hidup saat banyak wisatawan muda ikut nimbrung—ada yang sibuk selfie bareng prajurit lintas usia, dari bocah cilik sampai kakek-kakek, bahkan ada yang spontan ikut menabuh kenong.

Pemerintah Kabupaten Demak pun optimis, sentuhan kreatif seperti kostum tematik dan pengemasan cerita sejarah yang lebih segar bisa jadi magnet baru untuk generasi Z agar makin dekat dengan tradisi leluhur.

“Grebeg Besar bukan sekadar tontonan, tapi ruang belajar kearifan lokal,” kata Plh. Bupati Demak Muhammad Badruddin yang akrab disapa Gus Bad di sela acara. (Sm)