Bangun Ketahanan Pesisir, Ketua DPRD Demak Salurkan 150 Truk Tanah dan Latih Warga Hadapi Bencana

Ketua DPRD Demak bersama BPBD dan Relawan RKM membuka Pelatihan Mitigasi Bencana di Kecamatan Bonang, Selasa (24/6). Foto: Sam
ARUSUTAMA.com – Ancaman rob yang terus berulang di wilayah pesisir tak bisa lagi dipandang sebelah mata. Menghadapi kondisi ini, Ketua DPRD Demak, H. Zayinul Fata, bergerak cepat dengan menyalurkan tanah padas untuk membantu peninggian jalan di desa rawan bencana.
Sebanyak 150 dump truk tanah padas digelontorkan ke 12 desa rawan rob di Kecamatan Bonang, sebagai langkah awal peninggian jalan dan tanggul sebelum dilanjutkan dengan pembangunan jalan beton.
Daerah yang mendapat bantuan antara lain Purworejo, Margolinduk, Morodemak, Gebang, Gebangarum, Karangrejo, Tridonorejo, Betahwalang, Kembangan, Sukodono, Krajanbogo, dan Sumberejo—semuanya berada di garis depan ancaman rob dan tanggul jebol saat musim penghujan tiba.
Namun, Zayinul Fata tak hanya datang membawa material. Ia juga membawa semangat pemberdayaan. Di GOR Desa Margolinduk, sebanyak 300 warga diberi pelatihan mitigasi bencana, bekerja sama dengan Pertamina Gas Negara (PGN) dan BPBD Demak. Pelatihan ini bertujuan membekali masyarakat dengan keterampilan menghadapi situasi darurat, bukan sekadar mengandalkan bantuan eksternal.
“Kita tidak bisa melawan alam, tapi kita bisa bersiap. Kita cari solusi bersama. Sudah kita usulkan agar 30 persen APBD difokuskan untuk wilayah terdampak bencana,” tegas Zayinul Fata, Selasa (24/6/2025).
Sementara itu, Ketua Komisi A DPRD sekaligus perwakilan dari Lembaga Relawan Kesejahteraan Masyarakat (RKM), Muadhom, menekankan pentingnya literasi kebencanaan.
“Pelatihan seperti ini penting agar warga tak panik dan tahu apa yang harus dilakukan ketika bencana datang,” ujarnya.
Tak kalah penting, Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Demak, Riski Sulistyanto, mengingatkan bahwa rob tak terjadi begitu saja. Ada andil manusia dalam perusakan lingkungan, dan di sinilah pentingnya pendekatan preventif.
“Partisipasi warga sangat vital. Mereka harus aktif, tidak hanya saat bencana datang, tetapi juga dalam menjaga lingkungan,” tegas Riski.
Ia juga menyebut bahwa adaptasi terhadap perubahan iklim adalah keniscayaan.
“Kita harus siap dengan solusi teknis seperti pompanisasi, perbaikan drainase, hingga normalisasi sungai. Ketika masyarakat punya kapasitas, maka mereka tak perlu bergantung sepenuhnya pada bantuan luar,” tambahnya. (Sm)
