FKDM Demak Ajak Komunitas Bersinergi Bangun Solidaritas dan Deteksi Dini Kerawanan Masyarakat

FKDM Demak dialog dan konsolidasi ormas

FKDM Demak bersama berbagai komunitas dan ormas berdialog membangun solidaritas dan kewaspadaan dini di Aula Kesbangpol Demak, Rabu (12/11). Foto: Sam

ARUSUTAMA.com — Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM) Kabupaten Demak menggelar Dialog dan Konsolidasi FKDM bersama Komunitas Demak di Aula Kesbangpol Demak, Rabu (12/11/2025).

Kegiatan ini dihadiri sekitar 50 peserta dari berbagai organisasi kemasyarakatan se-Kabupaten Demak, dengan latar belakang yang beragam, mulai dari aktivis lingkungan, pegiat sosial, ekonomi, politik hingga perwakilan komunitas peduli masyarakat.

Kepala Kesbangpol Demak, Kendarsih Iriani, yang juga Pembina Utama Muda FKDM melalui Kabid Kewaspadaan Nasional dan Penanganan Konflik, Muslihin, menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan meningkatkan sinergitas dan koordinasi antarunsur masyarakat dalam menjaga stabilitas keamanan, ketertiban, serta memperkuat deteksi dini dan pencegahan terhadap potensi kerawanan sosial.

“Dalam dunia yang semakin terhubung ini, solidaritas masyarakat menjadi kunci menghadapi berbagai tantangan sosial, ekonomi, maupun lingkungan. Melalui kegiatan ini, kita ingin membangun semangat kebersamaan agar masyarakat lebih siap dan tanggap terhadap setiap potensi ancaman,” jelas Muslihin.

Ia menambahkan, solidaritas masyarakat memiliki banyak manfaat, seperti memperkuat komunitas, membantu penanganan krisis, meningkatkan kesejahteraan, hingga mengurangi potensi konflik. Dengan kerja sama lintas sektor dan kolaborasi berbagai komunitas, FKDM berharap partisipasi aktif masyarakat dapat menjadi garda terdepan dalam deteksi dini di tingkat lokal.

Ketua FKDM Demak, Hasan Hamid, dalam sambutannya menegaskan pentingnya keterlibatan berbagai pihak dalam menjaga keamanan dan kenyamanan masyarakat.

“FKDM tidak bisa berjalan sendiri. Kami butuh masukan dari masyarakat terkait persoalan apa pun yang berpotensi mengganggu ketertiban, kenyamanan, maupun perekonomian di Kabupaten Demak. Semua laporan dan rekomendasi akan kami teruskan kepada pihak terkait untuk ditindaklanjuti,” tegasnya.

Menurutnya, ancaman-ancaman sosial dan lingkungan bisa muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari isu rob, kerusakan jalan, hingga potensi konflik antarwarga. FKDM berperan aktif menampung aspirasi dan memberikan rekomendasi kepada instansi berwenang agar masalah dapat segera diantisipasi.

Dalam sesi diskusi, Nasikin dari Yayasan Paralegal Pertiwi (YPP) mengungkapkan adanya dampak sosial dari pembangunan Tol Semarang–Demak, seperti rob yang belum tertangani dan limbah air sungai Dukun yang mengganggu perekonomian warga. Ia juga menyoroti perluasan kawasan industri yang menutup saluran air warga.

Sementara itu, Abdul Haris dari Aliansi Masyarakat Peduli Rob dan Abrasi (Ampera) menekankan pentingnya penanganan menyeluruh terhadap bencana rob di wilayah pesisir.

“Tiga desa yakni Purworejo, Morodemak, dan Margolinduk setiap hari harus bergelut dengan air rob. Belum ada grand design yang jelas sebagai solusi. Kami berharap ada langkah nyata, seperti pengerukan sungai dan peningkatan infrastruktur jalan,” ujarnya.

Menanggapi hal itu, Ketua FKDM Hasan Hamid menyebut bahwa persoalan rob sudah masuk dalam rencana pembangunan nasional melalui proyek giant sea wall serta program normalisasi sungai dan perbaikan infrastruktur kabupaten.

Dari sisi lingkungan, perwakilan Forum Demak Hijau, Sodik, mengingatkan pentingnya kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan dan kelestarian alam.

“Masalah lingkungan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tapi juga perilaku masyarakat. Jangan buang sampah sembarangan, jangan gunakan alat tangkap ikan yang merusak ekosistem. Kita harus mulai dari diri sendiri,” pesannya.

FKDM berharap, melalui forum dialog ini–solidaritas lintas komunitas di Demak bisa semakin kuat dan menjadi modal penting dalam menjaga stabilitas daerah. (Sam)