Menganyam Enceng Gondok, Pengrajin Lokal Jaga Asa di Tengah Lesunya Pasar

Pengrajin enceng gondok Demak

Pengrajin enceng gondok menunjukkan hasil karya anyaman bernilai ekonomi, mulai dari tempat tisu hingga wadah serbaguna, yang diproduksi secara rumahan di Kabupaten Demak. Foto: Sm

ARUSUTAMA.com – Di balik hamparan enceng gondok yang kerap dianggap gulma, tersimpan peluang ekonomi yang terus diperjuangkan oleh para pengrajin. Salah satunya adalah Sunartiningsih, pengrajin enceng gondok asal Kelurahan Bintoro, Kabupaten Demak, yang telah menekuni kerajinan ini selama delapan tahun terakhir.

Sunartiningsih mengaku memulai usahanya dengan ketekunan dan kreativitas. Menurutnya, enceng gondok dapat diolah menjadi berbagai produk kerajinan bernilai jual, mulai dari skala kecil hingga besar.

“Enceng gondok bisa dibuat macam-macam, dari gantungan kunci, gelang, vas bunga, tas, topi, tempat tisu, tempat buah, sampai yang besar seperti tempat laundry, tikar, dan meja kursi,” ujarnya, Sabtu (13/12/2025).

Selama bertahun-tahun, ia telah memasarkan hasil karyanya ke berbagai daerah. Produk kerajinan enceng gondok buatannya dapat ditemukan di pusat oleh-oleh di Semarang dan Jakarta. Selain itu, ia juga kerap mengikuti pameran kerajinan yang difasilitasi oleh dinas terkait.

“Kami sering ikut pameran, seperti di TMII Jakarta, Inacraft Jakarta, bahkan pernah dibawa sampai ke luar Jawa,” katanya.

Dari sisi harga, Sunartiningsih menyesuaikan dengan jenis dan tingkat kerumitan produk. Gantungan kunci dan gelang dijual sekitar Rp10 ribu, sandal jepit Rp25 ribu, tempat tisu Rp75 ribu, serta tempat buah berkisar Rp45 ribu hingga Rp60 ribu.

Sementara produk berukuran besar seperti tas dijual Rp200 ribu hingga Rp350 ribu, tikar Rp800 ribu sampai Rp1,5 juta, tempat laundry Rp500 ribu hingga Rp1,6 juta, dan kursi Rp500 ribu hingga Rp800 ribu.

Untuk menjaga kualitas, Sunartiningsih memilih bahan baku enceng gondok kering langsung dari petani. Ia lebih menyukai batang yang panjang karena dinilai lebih efisien dalam proses anyaman.

“Kalau batangnya pendek, proses menganyamnya kurang cepat. Harga bahan biasanya Rp6 ribu per kilogram, tapi kalau pilih yang bagus dan panjang bisa sampai Rp10 ribu hingga Rp13 ribu,” jelasnya.

Meski telah memiliki pasar, tantangan tetap dirasakan, terutama dalam hal pemasaran. Ia mengakui kondisi saat ini berbeda dibandingkan beberapa tahun lalu.

“Sekarang pemasaran agak sulit, tidak seperti dulu. Harapannya ada dukungan dari pemerintah daerah untuk membantu memperluas pemasaran,” ungkapnya.

Sunartiningsih juga menyambut baik adanya pelatihan kerajinan enceng gondok yang digelar oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Demak. Menurutnya, pelatihan tersebut sangat bermanfaat bagi pengrajin maupun masyarakat yang ingin memulai usaha kerajinan.

Ia berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan agar semakin banyak warga yang terampil dan mampu mengembangkan UMKM berbasis kerajinan enceng gondok. (Sam)