Dugaan Ada Mafia di Proyek Tol Bambu, Pekerja Mengeluh Tak Dibayar

Proyek tol bambu Semarang Demak

Sejumlah pekerja melakukan pemasangan lapisan pelindung di atas struktur bambu yang menjadi ciri khas konstruksi Tol Semarang-Demak. Foto: ist.

ARUSUTAMA.com – Polemik pembayaran pemasok bambu untuk proyek Tol Semarang–Demak kembali memanas setelah muncul keluhan di media sosial mengenai pekerja yang merasa belum menerima upah. Para pemasok menilai pembayaran tersendat karena lemahnya sistem pengelolaan dan adanya praktik tidak sehat di jalur distribusi material.

Bambu menjadi salah satu material penting dalam konstruksi di kawasan rob Sayung, terutama untuk penyangga tanah sebelum pengurukan dilakukan. Besarnya kebutuhan material ini membuat ratusan vendor terlibat, namun sebagian di antaranya mengaku pembayaran tak kunjung cair sehingga memicu keresahan di tingkat pekerja.

Humas CRBC Wika PP, Robby Sumarna, mengakui bahwa persoalan pembayaran bukan semata soal kontraktor dan anggaran, melainkan keruwetan di tingkat vendor. Ia menegaskan bahwa pembayaran untuk pasokan bambu memiliki prosedur dan standar yang harus dipenuhi sebelum dana dicairkan.

“Pembayaran dari kontraktor itu berjalan sesuai sistem. Tapi di bawah, mohon maaf, memang ada banyak mafia. Ada material yang tidak sesuai standar, tapi tetap dipaksakan minta dibayar,” ujarnya saat dikonfirmasi, Rabu (24/12/2025).

Menurut Robby, standar bambu untuk proyek tol sangat ketat. Setiap batang harus memiliki panjang delapan meter, diameter 8–10 sentimeter, tidak bengkok, dan dalam kondisi baik. Bambu yang tidak memenuhi kriteria otomatis tidak lolos dan tidak dapat dibayarkan.

“Contohnya, vendor mengirim 2.000 batang, tapi yang lolos hanya 1.500. Sisanya 500 itu direject, sehingga tidak bisa dibayar. Proses itulah yang sering jadi pemicu masalah,” jelasnya.

Keluhan pekerja yang viral di media sosial disebutnya kerap berangkat dari informasi parsial di tingkat bawah, tanpa menjelaskan bahwa sebagian material memang tidak layak pakai. Robby menyebut isu “tidak dibayar” seringkali muncul karena vendor yang merasa dirugikan menaikkan narasi berbeda ke permukaan.

“Konfliknya di bawah, tapi ceritanya dinaikkan ke atas seolah-olah kontraktor yang menahan pembayaran. Padahal material yang tidak sesuai tidak bisa kita bayarkan,” tegasnya.

CRBC sendiri menjadi pihak yang menggunakan bambu terbanyak karena panjang konstruksi yang ditangani mencapai enam kilometer, dengan kebutuhan bambu sekitar enam juta batang. Dari ratusan vendor yang terlibat, sekitar sepuluh persen di antaranya dinilai bermasalah.

Meski begitu, pekerja berharap penyelesaian masalah dilakukan lebih terbuka agar tidak ada pihak yang merasa dirugikan. Mereka menilai keterlambatan dan penolakan pembayaran perlu disertai dokumentasi yang jelas, sehingga tidak muncul kecurigaan adanya penyelewengan di jalur distribusi material.

Sementara proyek Tol Semarang–Demak masih dikebut mencapai target progres sekitar 50 persen. (Sam)