Kapolsek Sayung Respons Kondisi Warga Terisolir, Akses Putus Tak Halangi Bantuan

Petugas Polsek Sayung membantu warga lansia Dukuh Tambaksari yang terisolir akibat abrasi dan rob, saat penyaluran bantuan makanan dan layanan kesehatan di tengah kondisi cuaca ekstrem. Foto: ist.
ARUSUTAMA.com – Setelah lebih dari sebulan terisolir akibat cuaca ekstrem dan terputusnya akses jalan, warga Dukuh Tambaksari, Desa Bedono, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, akhirnya menerima bantuan bahan pokok makanan dan layanan kesehatan.
Bantuan tersebut disalurkan oleh Polsek Sayung bekerja sama dengan Puskesmas Sayung 1 sebagai bentuk empati terhadap kondisi warga yang bertahan hidup di tengah genangan laut.
Dukuh Tambaksari yang dikenal sebagai kawasan Makam Terapung Syekh Mudzakir dulunya merupakan daratan. Namun abrasi menahun dan rob yang terus terjadi membuat wilayah tersebut tenggelam.
Saat ini, sedikitnya terdapat 12 kepala keluarga atau sekitar 40 jiwa yang masih bertahan dengan mendirikan rumah panggung di atas genangan air laut.
Akses jalan darat yang sebelumnya dibuat dari tumpukan batu dan bambu kini terputus setelah diterjang ombak besar. Kondisi tersebut membuat warga semakin terisolasi, terutama saat angin kencang dan gelombang pasang tinggi.
Kapolsek Sayung, AKP Suprapto, mengatakan pihaknya sengaja menggandeng Puskesmas Sayung 1 untuk memberikan bantuan sosial sekaligus pelayanan kesehatan bagi warga Dukuh Tambaksari.
“Kami turut berempati kepada warga Desa Bedono, khususnya Dukuh Tambaksari. Bantuan ini untuk sedikit meringankan beban agar mereka bisa menjalani kehidupan sehari-hari,” ujar AKP Suprapto saat dikonfirmasi, Selasa (2/2/2026).
Ia menjelaskan, akses menuju Dukuh Tambaksari saat ini tidak aman dilalui melalui jalur darat karena sejumlah titik jalan terputus akibat diterjang ombak. Oleh karena itu, rombongan memilih menggunakan jalur laut dengan perahu.
“Kami bersama rekan-rekan puskesmas menggunakan perahu. Kalau jalur darat ada jalan desa, tapi karena terkena ombak ada beberapa bagian yang terputus,” imbuhnya
Salah seorang warga, Susana, mengungkapkan bahwa selama cuaca ekstrem, warga hanya bisa bertahan hidup dengan persediaan seadanya. Bahkan, akses perahu pun sangat berisiko ketika ombak besar melanda.
“(Makan) seadanya saja, yang ada di rumah. Alhamdulillah masih sedikit-sedikit ada,” kata Susana.
Ia menambahkan, dalam dua bulan terakhir kaum perempuan tidak berani keluar dari Dukuh Tambaksari karena akses yang tidak memungkinkan. Jika persediaan makanan habis, para suami terpaksa mempertaruhkan nyawa berjalan kaki atau menuju pantai untuk mencari bahan makanan.
“Kalau habis terpaksa keluar jalan kaki. Kalau naik perahu juga tidak bisa. Itu pun bapak-bapak saja. Kalau ibu-ibu sama sekali tidak bisa keluar,” ungkapnya.
Selain keterbatasan pangan, persoalan kesehatan juga menjadi keluhan warga. Masmuah (57), salah satu warga, mengaku menderita sakit lambung selama setahun terakhir. Namun, ia hanya bisa berobat ketika gelombang laut sedang kecil.
“Sakit lambung sudah setahun. Mau berobat ya nunggu gelombang kecil baru bisa keluar,” ujarnya.
Akibat akses yang terputus, Masmuah terpaksa bertahan dengan mengonsumsi obat warung sebelum akhirnya mendapatkan penanganan dari tenaga kesehatan Puskesmas Sayung 1 yang datang bersama Polsek Sayung.
Meski demikian, perjalanan laut menuju lokasi bukan tanpa risiko. Di tengah gelombang pasang, perahu yang membawa tim bantuan sempat beberapa kali terombang-ambing ombak besar, bahkan membuat sebagian tenaga kesehatan berteriak histeris karena kuatnya guncangan.
Kendati penuh tantangan, bantuan akhirnya berhasil disalurkan dan disambut haru oleh warga Dukuh Tambaksari yang selama ini bertahan hidup di tengah keterbatasan. (Sm)
