Demak Raih Stunting Terendah di Jateng, Angka Turun dari 16% ke 9,5%

Stunting Demak terendah di Jateng

Wakil Bupati Demak Muhammad Badruddin bersama narasumber lainnya seusai talkshow di RSKW 104.8 FM, menyampaikan komitmen Pemkab Demak dalam mewujudkan zero stunting 2026 melalui penanganan holistik lintas sektor. Foto: ist.

ARUSUTAMA.com – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Demak menegaskan komitmennya menekan angka stunting hingga nol persen pada tahun 2026 melalui kebijakan dengan pendekatan holistik dan lintas sektor. Penanganan stunting tidak lagi hanya menjadi tanggung jawab Dinas Kesehatan, tetapi melibatkan berbagai perangkat daerah mulai dari sektor infrastruktur, sosial, hingga pendidikan.

Hal tersebut disampaikan Wakil Bupati Demak, Muhammad Badruddin, saat menjadi narasumber dalam talkshow di RSKW 104.8 FM. Ia menekankan bahwa upaya penanganan stunting harus menyentuh langsung sasaran utama, yakni keluarga.

“Intervensi dilakukan langsung oleh kader sehingga benar-benar menyentuh sasaran sampai ke akar, yaitu keluarga,” ujar Badruddin, hari-hari ini.

Menurutnya, Pemkab Demak tidak hanya fokus pada penurunan angka stunting, tetapi juga pada pencegahan sejak dini, bahkan sebelum bayi dilahirkan. Persiapan kehamilan, pencegahan anemia pada remaja putri, pemenuhan ASI eksklusif, serta keterlibatan keluarga dan masyarakat menjadi perhatian utama pemerintah daerah.

“Penanganan dilakukan jauh sebelum bayi lahir. Ibu harus dipersiapkan secara fisik dan mental agar mampu melahirkan generasi yang sehat,” tegasnya.

Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan Daerah Kabupaten Demak, Ali Maimun, menyampaikan bahwa prevalensi stunting di Kabupaten Demak terus mengalami penurunan signifikan. Pada 2022 angka stunting berada di 16 persen, turun menjadi 10 persen pada 2024, dan kembali menurun hingga 9,5 persen selama dua tahun berturut-turut.

“Capaian ini menjadikan Demak sebagai salah satu kabupaten dengan angka stunting terendah di Jawa Tengah, sekaligus memperoleh dana insentif dari pemerintah pusat. Dalam RPJMD, Demak menargetkan penurunan stunting hingga 7,3 persen pada 2026. Semakin kecil angkanya, tentu semakin baik,” jelas Ali Maimun.

Ia menegaskan bahwa pencegahan merupakan kunci utama keberhasilan, mengingat stunting berawal dari kondisi gizi buruk kronis yang sulit diperbaiki apabila tidak ditangani sejak awal.

“Keberhasilan intervensi paling tinggi terjadi pada anak usia di bawah dua tahun. Yang terpenting adalah jangan sampai muncul stunting baru. Pencegahan dimulai dari remaja putri dengan menekan anemia, dilanjutkan pendampingan calon pengantin dan ibu hamil. Kesehatan ibu sangat menentukan kesehatan janin. Jika ibu sehat, insyaallah janin juga sehat,” pungkasnya. (Sm)