Karom dan Karu Dibekali Strategi Khusus, Wujudkan “Tri Sukses Haji” 2026

Pembekalan Karom dan Karu haji demak

Kepala Kemenag Demak memberikan pembekalan kepada Ketua Rombongan (Karom) dan Ketua Regu (Karu) jamaah calon haji 1447 H/2026 M digelar di Kabupaten Demak, Senin (13/4), guna memperkuat peran pelayanan dan pendampingan jamaah di Tanah Suci. Foto: ist.

ARUSUTAMA.com – Kantor Kementerian Haji dan Umrah Kabupaten Demak menggelar kegiatan pembekalan bagi Ketua Rombongan (Karom) dan Ketua Regu (Karu) jamaah calon haji tahun 1447 H/2026 M. Kegiatan tersebut berlangsung di Hotel Amantis Demak, Senin (13/4/2026).

Kepala Kantor Kementerian Agama (Kakan Kemenag) Kabupaten Demak, Taufiqur Rahman, menegaskan bahwa Karom dan Karu memiliki peran strategis sebagai ujung tombak pelayanan jamaah di lapangan. Menurutnya, keduanya menjadi pendamping terdekat yang memastikan jamaah tetap tertib, aman, serta mampu menjalankan ibadah dengan baik dan khusyuk.

Ia menjelaskan, tugas Karom adalah membantu pelaksanaan tugas ketua kloter dalam mendampingi jamaah, khususnya di bidang pelayanan umum dan ibadah. Sementara itu, Karu bertugas membantu Karom serta petugas kloter (PPIH) dalam pelayanan umum, ibadah, dan kesehatan jamaah.

“Karom dan Karu adalah pendamping terdekat jamaah. Mereka memastikan jamaah tetap tertib, aman, serta dapat menjalankan ibadah dengan baik dan khusyuk,” ujarnya.

Dalam kegiatan pembekalan tersebut, peserta mendapatkan materi terkait tugas dan fungsi Karom dan Karu, mulai dari pelayanan ibadah, menjaga keutuhan rombongan dan regu, hingga memastikan komunikasi antara jamaah dengan petugas kloter berjalan lancar.

Sementara itu, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Haji Provinsi Jawa Tengah, Fitriyanto, menyampaikan kebijakan penyelenggaraan haji tahun 2026 yang mengusung konsep “Tri Sukses Haji”. Konsep ini meliputi sukses ritual haji, sukses peradaban dan keadaban, serta sukses ekosistem ekonomi haji.

Sukses ritual haji menitikberatkan pada pelaksanaan seluruh rangkaian ibadah secara sah, sehat, dan sempurna sehingga jamaah memperoleh haji mabrur. Sementara sukses peradaban dan keadaban diwujudkan melalui karakter jamaah yang santun, disiplin, serta menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Adapun sukses ekosistem ekonomi haji diharapkan mampu memberikan dampak positif bagi perekonomian, pelaku usaha lokal, dan umat secara luas.

“Karom dan Karu memiliki fungsi penting sebagai penghubung, koordinator, sekaligus pendukung bagi jamaah. Mereka harus menjadi pelayan jamaah, menjaga kekompakan regu dan rombongan, serta memastikan seluruh anggota terpantau dengan baik,” jelas Fitriyanto.

Dalam pembekalan tersebut juga disampaikan berbagai kebijakan layanan haji di Arab Saudi, meliputi akomodasi, konsumsi, transportasi, hingga layanan di Madinah, Makkah, Arafah, Muzdalifah, dan Mina.

Untuk meningkatkan keselamatan jamaah, pemerintah menerapkan skema murur dan tanazul. Murur Muzdalifah merupakan pergerakan jamaah dari Arafah menuju Mina dengan melintasi Muzdalifah tanpa turun dari bus, sebagai bentuk keringanan guna mengurangi risiko kepadatan.

Sedangkan Tanazul Mina merupakan kebijakan penempatan jamaah sehat pada kloter utuh di zona Mina untuk kembali ke hotel terdekat di Makkah pada 10 Dzulhijjah. Kebijakan ini bertujuan memberikan ruang lebih bagi jamaah lansia, risiko tinggi, dan disabilitas, sekaligus menjaga keselamatan seluruh jamaah selama puncak ibadah haji. (Sm)