Nguri-Uri Budaya Jawa, Rejo Budaya Demak Gelar Reuni Akbar Penuh Nuansa Tradisi

Peserta Temu Kangen dan Reuni Akbar Rejo Budaya Demak berfoto bersama usai kegiatan yang digelar di Caffe Boss’e, Kabupaten Demak, sebagai wujud komitmen menjaga dan melestarikan budaya Jawa. Foto: ist.
ARUSUTAMA.com – Semangat melestarikan budaya Jawa terus dijaga Paguyuban Pemerhati Budaya Jawa Rejo Budoyo Demak melalui kegiatan Temu Kangen dan Reuni Akbar yang digelar di Caffe Boss’e, Kabupaten Demak. Kegiatan tersebut sebagai ajang silaturahmi lintas angkatan sekaligus memperkuat komitmen untuk terus nguri-uri budaya Jawa di tengah perkembangan zaman modern.
Acara berlangsung khidmat dengan nuansa budaya Jawa yang kental. Para peserta hadir mengenakan ageman dines Jawi berupa beskap warna-warni lengkap dengan atribut tradisional. Kegiatan diawali dengan kirab Bregada I hingga XII warga Rejo Budaya yang menambah semarak reuni tahunan tersebut.
Ketua Panitia sekaligus Ketua Paguyuban Rejo Budaya, Marsono mengatakan reuni digelar sebagai wadah mempererat persaudaraan antaranggota yang pernah belajar panatacara dan pamedharsabda Jawa di Rejo Budaya.
“Semboyannya yaiku siji wadah ojo nganti bubrah seduluran salawase. Jadi meskipun profesinya berbeda-beda, kami tetap satu keluarga dan tetap menjaga budaya Jawa,” ujar Marsono, Senin (11/5/2026).
Menurutnya, sejak berdiri hingga saat ini, jumlah alumni yang telah mengikuti wisuda mencapai sekitar 350 orang dari berbagai daerah. Tidak hanya berasal dari Kabupaten Demak, peserta juga datang dari Kota Semarang, Grobogan, Kudus, Pati hingga Jepara.
“Mayoritas alumni kini aktif menjadi panatacara atau pembawa acara adat Jawa di berbagai kegiatan masyarakat seperti resepsi pernikahan, prosesi adat hingga acara budaya lainnya,” tambahnya.
Marsono berharap paguyuban tersebut terus berkembang dan menjadi ruang belajar budaya Jawa bagi generasi muda. Ia menilai pelestarian budaya tidak boleh berhenti pada seremoni semata, tetapi harus diwariskan secara berkelanjutan.
Sementara itu, Pendiri Dwijo Panuntun Rejo Budoyo, Hardo Supriyadi menjelaskan paguyuban tersebut lahir pada tahun 2010. Awalnya, komunitas itu dibentuk untuk mewadahi para peserta pelatihan panatacara agar tetap dapat berkumpul dan menjaga persaudaraan.
“Kalau bukan kita yang menjaga budaya Jawa, lalu siapa lagi. Harapannya ini bisa terus berjalan dari generasi ke generasi,” katanya.
Ia menyebut antusias masyarakat terhadap budaya Jawa terus meningkat. Bahkan, peserta dari luar Kabupaten Demak kini semakin banyak mengikuti pelatihan maupun kegiatan budaya yang diselenggarakan Rejo Budaya.
Salah satu alumni angkatan VIII, Sodikin mengaku bangga menjadi bagian dari Rejo Budaya. Menurutnya, paguyuban tersebut tidak hanya mengajarkan tata cara berbicara dalam adat Jawa, tetapi juga menanamkan nilai sopan santun, kebersamaan, dan penghormatan terhadap budaya leluhur.
“Saya merasa mendapat keluarga baru di sini. Budaya Jawa harus terus dijaga karena menjadi identitas dan warisan yang sangat berharga bagi generasi mendatang,” ungkapnya. (Sm)
