Umat Buddha Demak Rayakan Waisak di Luar Daerah, Belum Miliki Wihara Sendiri

Umat Buddha Demak merayakan Waisak di Wihara Tanah Putih Semarang. Foto: Ist.
ARUSUTAMA.com – Meski belum memiliki rumah ibadah sendiri, umat Buddha di Kabupaten Demak tetap menyambut Hari Raya Waisak 2569 BE. Perayaan tahun ini kembali digelar di luar wilayah, karena hingga kini Demak belum memiliki satu pun Wihara sebagai tempat ibadah umat Buddha.
Wakil Ketua Permabudhi Jawa Tengah dan Wakil Ketua Magabudhi Jawa Tengah, Bhikkhu Aggadhammo Warto, menjelaskan bahwa meskipun jumlah umat Buddha di Demak cukup signifikan, yaitu sekitar 128 jiwa–dengan 30 hingga 40 orang di antaranya aktif beribadah–kondisi ini belum diiringi dengan kehadiran sarana ibadah yang memadai.
“Di Demak kami belum punya Wihara. Selama ini umat terpaksa merayakan Waisak di Semarang, seperti di Wihara Tanah Putih, Watu Gong, atau Kinara Kinari,” jelasnya, Senin (12/5/2025).
Dalam peringatan Waisak tahun ini yang mengusung tema “Kebijaksanaan Dasar Keluhuran Bangsa”, Bhikkhu Aggadhammo menekankan pentingnya nilai-nilai kebijaksanaan dalam membangun kehidupan berbangsa yang luhur.
Ia menyampaikan bahwa pribadi yang bijaksana adalah mereka yang mampu membedakan yang baik dan buruk, serta menjauhi hal-hal yang merugikan diri sendiri maupun orang lain.
“Jika seluruh umat memiliki kepribadian luhur, bangsa ini akan menjadi bangsa yang penuh kedamaian dan saling menghargai,” ungkap Warto yang juga sebagai pemimpin Waisak di Kinara Kinari, Semarang.
Meskipun menjadi kelompok minoritas, umat Buddha di Demak tetap menjaga hubungan harmonis dengan masyarakat dan pemerintah Demak. Warto menyebut, mereka selalu hadir dalam undangan kegiatan keagamaan lintas agama, baik di Masjid Agung Demak, Polres, maupun Pemkab.
Sayangnya, upaya umat Buddha untuk memiliki tempat ibadah sendiri di Demak masih menemui jalan terjal.
“Kami sudah pernah menyampaikan kebutuhan ini secara lisan dan juga melalui audiensi, namun belum ada tindak lanjut, apalagi prosesnya kerap terkendala pergantian pimpinan,” ujarnya.
Warto yang merupakan warga asli Mranggen Demak, menegaskan bahwa umat Buddha tidak menuntut fasilitas besar.
“Kami hanya butuh tempat ibadah kecil saja, 4×4 meter sudah cukup. Kalau harus membeli lahan, kami siap. Hanya saja, kami mohon dimudahkan proses perizinannya,” harapnya. (Sm)
