Jelang UTBK, 61 Calon Mahasiswa Digembleng Yahana di Ponpes Raudlatut Sibyan

IMG-20260414-WA0195

Demak – Suasana Pondok Pesantren Roudlatut Sibyan di Desa Bakung, Kecamatan Mijen, beberapa hari ini beda dari biasanya. Deretan santri yang biasa mengaji kitab kuning kini bercampur dengan 61 anak muda berseragam bebas. Mereka bukan santri tetap, tapi lulusan SMA, SMK, dan MA dari 14 kecamatan se-Kabupaten Demak. Tujuannya satu: ikut bimbingan belajar UTBK 2026 gratis yang digelar Yayasan Harokah Ahlusunnah Waljamaah (Yahana) Kabupaten Demak.

Program ini jadi jawaban untuk keresahan banyak calon mahasiswa. Bimbel UTBK di luar sana biayanya jutaan. Bagi sebagian keluarga, angka itu terlalu berat. Yahana hadir memotong rantai itu. Gratis, tapi serius.

Sejak pagi, ruang kelas di Ponpes Roudlatut Sibyan disulap jadi ruang bimbel. Papan tulis penuh rumus Matematika Penalaran. Di sudut lain, kelompok diskusi sibuk membedah teks panjang Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Suasananya hidup. Ada yang mencatat cepat, ada yang berdebat soal cara cepat menjawab soal. Tak ada kesenjangan. Anak dari kecamatan terjauh sampai yang rumahnya dekat Bakung melebur jadi satu.

Koordinator Bimbingan Belajar Yahana, Sutomo, turun langsung mengawasi. Baginya, UTBK bukan sekadar ujian pilihan ganda. Ini pintu gerbang masa depan. “Seperti Bahasa Indonesia, Inggris, Matematika termasuk penalarannya membutuhkan pendalaman. Disinilah materi tersebut kita bahas untuk menambah wawasan,” katanya.

Kalimat itu bukan sekadar jargon. Tim pengajar yang dibawa Yahana benar-benar membongkar tipe soal HOTS yang sering bikin peserta UTBK gugur. Mereka ajarkan logika di balik soal, bukan cuma trik cepat. Harapannya, peserta tak kaget saat hari H UTBK 2026 tiba.

Yang bikin bimbel ini beda adalah sentuhan pesantrennya. Pengasuh Ponpes Raudlatut Sibyan, Kiai Ahmad Syafiq, sengaja membuka pintu pondoknya lebar-lebar. Ia melihat program Yahana sejalan dengan semangat pesantren: mencerdaskan, tapi tak melupakan akhlak.

“Selain belajar bersama, kami juga mengajak mereka ngaji pendalaman ilmu agama, utamanya Alquran,” tutur Kiai Syafiq.

Jadilah jadwal peserta penuh. Pagi sampai sore otak diisi rumus dan logika. Magrib sampai Isya, hati diisi dengan lantunan Alquran dan kajian ringan. Kombinasi yang pas. Stres menghadapi UTBK teredam, diganti semangat dan ketenangan. Banyak peserta mengaku baru kali ini merasakan belajar yang tidak bikin tegang.

Cerita Risma, lulusan MA dari Kecamatan Wedung, cukup mewakili. “Di rumah bingung mau mulai dari mana. Beli buku latihan soal mahal. Di sini dikasih modul, diajarin sampai paham. Malamnya diajak ngaji, jadi pikiran adem,” ucapnya.

Ada juga Dimas dari SMK di Mranggen yang awalnya minder karena basic-nya kejuruan. “Ternyata Matematika Penalaran bisa dipahami kalau dijelasin pelan-pelan. Pengajarnya sabar banget,” katanya sambil tersenyum.

Selama beberapa hari, 61 peserta ini ditempa. Mereka tidur di asrama pondok, makan bersama, belajar bersama. Tanpa disadari, terbentuk solidaritas. Yang jago Bahasa Inggris membantu teman yang lemah. Yang kuat di Matematika berbagi cara cepat. Inilah yang disebut Sutomo sebagai tujuan lain bimbel: membangun jejaring sesama pejuang PTN dari Demak.

Kegiatan Yahana ini bukan yang pertama, tapi antusias tahun ini paling tinggi. 61 peserta dari 14 kecamatan jadi bukti bahwa mimpi kuliah masih menyala di Demak. Mereka hanya butuh sedikit dorongan, sedikit fasilitas.

Saat ditanya target, Sutomo tidak muluk-muluk. “Kami tidak bisa jamin semua lolos PTN. Tapi kami pastikan mereka berangkat UTBK dengan persiapan terbaik dan hati yang tenang. Selebihnya tawakal.”

Bagi Kiai Syafiq, apa yang dilakukan Yahana adalah investasi. “Anak-anak ini calon pemimpin. Kalau mereka pintar dan berakhlak, Demak akan dapat manfaatnya 10 atau 20 tahun lagi,” ucapnya.

Bimbel akan terus berjalan sampai mendekati hari UTBK 2026. Setelahnya, aula Ponpes Roudlatut Sibyan akan kembali sepi. Tapi 61 anak muda itu akan pulang membawa bekal lebih dari sekadar rumus. Mereka membawa pengalaman, teman baru, dan keyakinan bahwa mimpi kuliah bisa dikejar, bahkan tanpa biaya mahal.

Di Bakung, Mijen, selama beberapa hari ini, 61 cerita sedang ditulis. Cerita tentang ikhtiar, tentang gotong royong, dan tentang pesantren yang ikut memikul cita-cita anak bangsa. (*)