Banjir Bonang Belum Surut, DPRD Jateng Tinjau dan Desak Normalisasi Sungai Dipercepat 

DPRD Jateng bantu banjir demak

Fraksi Golkar DPRD Jateng Arif Wahyudi saat menyalurkan bantuan kepada terdampak banjir di Desa Karangrejo, Bonang, Kamis (22/5). Foto: Sam

ARUSUTAMA.com – Musibah banjir yang melanda Desa Karangrejo, Kecamatan Bonang, Kabupaten Demak, mendapat perhatian serius dari anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah. Anggota Komisi E dari Fraksi Partai Golkar, Arif Wahyudi, turun langsung ke lokasi banjir sebagai bentuk empati dan kepedulian terhadap warga terdampak.

“Kehadiran kami di sini menunjukkan bahwa masyarakat tidak sendiri. Ada peran legislatif, eksekutif, organisasi masyarakat, dan pemuda yang turut peduli terhadap bencana ini,” ujar Arif saat meninjau lokasi banjir yang sudah berlangsung selama lima hari, Kamis (22/5/2025).

Arif juga menyoroti dampak kesehatan akibat banjir yang mulai dirasakan warga, seperti penyakit kulit dan gatal-gatal.

“Kami sudah memetakan permasalahan yang muncul akibat banjir ini. Kami akan segera berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah agar penanganannya cepat dan bisa dimitigasi sebelum menimbulkan masalah lebih besar,” jelasnya.

Dalam kunjungan tersebut, DPRD Jateng bersama Dinas Sosial Provinsi turut membawa bantuan logistik sebanyak 250 item, di antaranya kasur, telur, makanan siap saji, perlengkapan anak, sembako, dan kebutuhan dapur lainnya. Bantuan ini diharapkan dapat meringankan beban warga yang terdampak.

Arif juga menyinggung pentingnya penanganan jangka panjang, terutama normalisasi sungai besar dari hulu ke hilir yang selama ini menjadi pemicu utama banjir.

“Sungai-sungai seperti Tuntang, Wulan, dan Juwana perlu segera dinormalisasi secara besar-besaran. Jika tidak, limpasan air akan terus menyasar permukiman warga. Banjir ini bukan hanya terjadi di Demak, bahkan sampai ke Mejobo juga terdampak,” ungkapnya.

Salah satu warga penerima bantuan, Mutamimah, menyampaikan rasa terima kasihnya.

“Sudah lima hari rumah saya kebanjiran. Saya tinggal sendirian dan kerja ayak-ayak dedak di belakang selep. Penghasilan tidak tentu, per sak hanya Rp70 ribu,” ungkapnya. (Sm)