Kasus HIV/AIDS di Demak Tembus 1.000 Lebih, Remaja Usia 16 Tahun Terpapar

Komisi Penanggulangan AIDS HIV Demak

Pengelola KPAids Demak, Titi Setyowati, saat memberikan penjelasan terkait perkembangan kasus HIV/AIDS di Kabupaten Demak, Senin (7/7). Foto: Sam

ARUSUTAMA.com – Tren kasus HIV/AIDS di Kabupaten Demak menunjukkan peningkatan signifikan dalam tiga tahun terakhir. Berdasarkan data dari Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Demak, hingga Mei 2025 sudah tercatat 47 kasus baru, dengan rincian 35 kasus HIV dan 12 AIDS. Dari jumlah tersebut, empat orang dilaporkan meninggal dunia.

Pengelola Administrasi KPA Demak, Titi Setyowati, mengungkapkan bahwa sejak 2022 hingga 2024, angka kasus terus naik.

“Tahun 2022 tercatat 101 kasus, meningkat menjadi 132 kasus di 2023, dan 164 kasus pada 2024. Tren ini menjadi perhatian serius,” ujarnya saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (7/7/2025).

Secara kumulatif, sejak 2003 hingga 2025, jumlah penderita HIV/AIDS di Kabupaten Demak mencapai 1.097 kasus.

“Terdiri dari 879 kasus HIV dan 209 kasus AIDS, dengan 112 orang meninggal dunia,” jelas Titi.

KPA Demak bersama Dinas Kesehatan, LSM Penjangkau, dan mitra lainnya terus melakukan berbagai upaya preventif melalui edukasi dan pemeriksaan rutin, terutama pada kelompok berisiko tinggi seperti komunitas Lelaki Seks Lelaki (LSL) dan Wanita Pekerja Seks (WPS).

“Pemeriksaan terhadap komunitas ini kami lakukan setiap enam bulan. Kami juga menggandeng relawan penjangkau untuk menjangkau data dan temuan kasus,” imbuhnya.

Selain itu, KPA juga bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Demak untuk melakukan tes HIV kepada calon pengantin dan ibu hamil.

“Pemeriksaan wajib dilakukan untuk calon pengantin, baik laki-laki maupun perempuan. Jika hasilnya positif, akan langsung ditindaklanjuti,” jelasnya.

Langkah pencegahan juga menyasar sekolah dan perusahaan melalui program skrining tahunan.

“Kami juga membentuk Warga Peduli AIDS (WPA) di desa-desa, terutama wilayah dengan stigma tinggi terhadap ODHIV,” ungkap Titi.

Kekhawatiran juga muncul akibat temuan kasus HIV pada remaja.

“Tahun 2024, ditemukan enam remaja usia 16 tahun yang masih sekolah terpapar HIV. Bahkan ada juga temuan di lingkungan pondok pesantren, meski bukan di Demak,” tambahnya.

KPA Demak terus berupaya menghapus stigma dan diskriminasi terhadap Orang Dengan HIV (ODHIV). Salah satu contohnya adalah Yanti (45), seorang ODHIV yang berani speak up dan kini aktif memberikan edukasi.

“Sejak 2016 saya hidup dengan HIV, tapi dengan rutin minum ARV dan dukungan masyarakat, saya bisa menjalani hidup normal. Saya ingin menjadi contoh bahwa ODHIV bisa hidup sehat dan produktif,” ujar Yanti.

KPA Demak berharap, dengan sinergi antarinstansi dan dukungan masyarakat, peningkatan kasus HIV/AIDS dapat ditekan dan ODHIV bisa hidup tanpa diskriminasi. (Sam)