BPBD Demak Targetkan 42 Desa Tangguh Bencana, Rob Mulai Masuk Prioritas

Jambore Relawan BPBD Demak

Peserta Jambore Relawan berpose bersama sambil membawa bibit pohon sebagai simbol kesiapsiagaan dan kepedulian terhadap lingkungan sekaligus pelatihan Destana di Degega, Mijen Demak. Foto: Ist.

ARUSUTAMA.com – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Demak terus memperkuat kesiapsiagaan masyarakat dengan mendorong pembentukan Desa Tangguh Bencana (Destana). Program ini bertujuan membentuk desa yang mampu beradaptasi dan mandiri dalam menghadapi serta memulihkan diri dari bencana.

Dari total 249 desa dan kelurahan di Kabupaten Demak, saat ini sebanyak 37 desa telah ditetapkan sebagai Destana. Pada tahun 2025 ini, BPBD menargetkan penambahan lima desa lagi, sehingga totalnya menjadi 42 desa.

“Untuk tahun ini kami rencanakan ada lima desa tambahan. Jadi nanti totalnya 42 desa tangguh bencana,” ujar Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Demak, Rezki Sulistiyanto Soedibyo, usai gelar Jambore Relawan, Selasa (22/7/2025).

Menurut Rezki, pembentukan Destana diprioritaskan pada wilayah yang masuk kategori rawan bencana. Berdasarkan data BPBD, dari 249 desa/kelurahan yang ada, sekitar 140 desa tergolong rawan bencana.

“Dari 140 desa rawan bencana, itu menjadi target utama kami. Tujuannya agar masyarakat bisa lebih siap dan mandiri saat terjadi bencana, tanpa sepenuhnya bergantung pada BPBD atau pemadam kebakaran,” jelasnya.

Meski begitu, proses pembentukan Destana menghadapi kendala, terutama dari sisi anggaran. Rezki mengungkapkan bahwa bantuan dari BPBD masih terbatas pada penyediaan rambu titik kumpul dan jalur evakuasi, belum mencakup peralatan penanganan bencana.

“Kalau hanya mengandalkan APBD, tidak akan cukup. Karena itu, kami berharap desa bisa mengalokasikan dana desa untuk pengadaan peralatan penanggulangan bencana,” ungkapnya.

Sementara itu, terkait fenomena rob yang kerap terjadi di wilayah pesisir Demak, Rezki menyebutkan bahwa saat ini rob belum masuk kategori bencana secara resmi. Namun, mengingat dampaknya yang semakin parah dalam beberapa waktu terakhir, pihaknya mulai memprioritaskan desa-desa terdampak rob untuk dibentuk sebagai Destana.

“Memang rob belum dikategorikan sebagai bencana, tapi setelah kejadian kemarin yang cukup ekstrem, kami mulai memprioritaskan desa terdampak rob. Gubernur juga sudah memberi arahan agar desa terdampak rob masuk dalam program Destana,” pungkasnya. (Sm)