Normalisasi Sungai Pulihkan 450 Hektare Sawah di Demak, Petani Berpotensi Hemat Rp55,8 Miliar

Wagub Jateng Gus Yasin wiwitan tandur di demak

Wakil Gubernur Jateng bersama jajaran Pemprov, Pemkab Demak, dan mitra lintas sektor saat menghadiri kegiatan Wiwitan Tandur di Karangtengah, Demak, Rabu (27/8). Foto: Sm

ARUSUTAMA.com – Upaya normalisasi sungai di Kecamatan Karangtengah, Kabupaten Demak, membuahkan hasil. Dari total 512 hektare lahan persawahan yang sempat terendam banjir, kini lebih dari 450 hektare berhasil kembali pulih dan bisa ditanami padi. Lahan tersebut tersebar di empat desa, yakni Desa Dukun, Klitih, Pidodo, dan Kedunguter.

Data Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Jateng mencatat, kerugian akibat banjir pada awal 2025 di Karangtengah mencapai Rp18,63 miliar per musim tanam. Angka ini dihitung dari potensi kehilangan produksi gabah kering sebanyak 2.867 ton dari lahan seluas 512 hektare dengan asumsi harga Rp6.500 per kilogram.

Rifan, petani asal Desa Dukun, mengaku lega karena sawahnya bisa kembali ditanami.

“Terimakasih sudah dibantu normalisasi sungai. Tapi kalau bisa jangan hanya di sini, sampai desa sebelah juga harus dinormalisasi. Kemarin musim hujan baru sempat menanam sebentar langsung banjir lagi,” ujarnya saat kegiatan Wiwitan Tandur Pari, Rabu (27/8/2025).

Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin, menyampaikan bahwa pemulihan lahan sawah ini merupakan bukti kerja bersama lintas sektor.

“Pada 3 Juli 2025 lalu saya kesini. Luasan tanah total sekitar 512 hektare masih terendam air. Alhamdulillah saat ini sudah kering dan sudah bisa ditanam lagi,” katanya.

Ia menegaskan bahwa Demak harus kembali menjadi penopang pangan Jawa Tengah.

“Sebelumnya Demak itu penyumbang komoditas padi nomor tiga di Jateng, tapi turun jadi nomor lima. Maka produksi harus kita genjot lagi,” tegasnya.

Kepala Distanbun Jateng, Defransisco Dasilva Tavares, menjelaskan, jika saluran irigasi di Karangtengah diperbaiki secara menyeluruh, petani bisa melakukan tanam hingga tiga kali setahun.

“Sinergitas penanganan genangan di Karangtengah bisa mengembalikan pendapatan masyarakat sebesar Rp55,89 miliar,” ungkapnya.

Dari sisi makroekonomi, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Jateng, Rahmat Dwisaputra, menilai normalisasi sawah ini penting untuk menjaga stabilitas harga pangan.

“Upaya pemulihan ini tidak hanya menjaga ketersediaan beras di daerah sentra produksi, tetapi juga menjadi penopang stabilitas harga pangan di Jawa Tengah,” jelasnya.

Kini, luas lahan sawah yang sudah tertanami mencapai 231,9 hektare, meliputi Desa Dukun 148 hektare, Desa Klitih 41 hektare, Desa Pidodo 12 hektare, dan Desa Kedunguter 30,9 hektare.

Sementara 223 hektare lainnya masih dalam proses persemaian untuk musim tanam berikutnya. Dengan pemulihan ini, Demak diharapkan kembali menjadi salah satu lumbung padi terbesar di Jawa Tengah. (Sm)