Tiga Tahun Hidup dalam Gelap, Mak Jah di Desa Tenggelam Bedono Berharap Panel Surya Jadi Penyelamat

Kunjungan Puspita Bahari ke rumah Mak Jah di Dusun Senik yang kini terendam rob untuk menggalang dukungan pemasangan panel surya. Foto: Sm
ARUSUTAMA.com – Di tengah gempuran abrasi dan banjir rob yang menenggelamkan Desa Bedono, Kecamatan Sayung, sejak 2005, Pasijah atau akrab disapa Mak Jah, masih setia mempertahankan rumah dan kehidupannya di Dukuh Senik. Meski kini kampung itu telah berubah menjadi lautan, Mak Jah dan suaminya, Rokani, tetap menggantungkan hidup sebagai nelayan sekaligus penjaga hutan mangrove yang mereka rawat sebagai benteng terakhir dari ancaman krisis iklim.
Namun, kehidupan yang sudah berat itu kian terhimpit sejak listrik PLN ke wilayah tersebut terputus pada 2023. Selama tiga tahun terakhir, satu-satunya sumber penerangan keluarga ini adalah genset, dengan biaya yang tak sedikit. Setiap hari, Mak Jah harus merogoh kocek Rp20.000–Rp40.000 hanya untuk membeli bensin yang menghasilkan listrik sekadar 3–4 jam penerangan. Setelah pukul 9 malam, rumah mereka kembali gelap gulita.
“Sudah tiga tahun PLN diputus. Setiap hari Mak Jah mengeluarkan sekitar Rp40 ribu hanya untuk lampu selama empat jam. Setelah itu gelap lagi,” ujar Masnuah, Penggerak Puspita Bahari, usai mengunjungi rumah Mak Jah di Dukuh Senik, Senin (17/11/2025).
Menurut Masnuah, pendapatan sebagai nelayan yang bergantung pada cuaca tak menentu membuat biaya harian bensin genset menjadi beban berat. Karena itu, pihaknya mengajak masyarakat untuk bersama-sama membantu menghadirkan panel surya sebagai solusi penerangan yang lebih murah, mandiri, dan berkelanjutan.
“Penting bagi kita mendukung Mak Jah dan Pak Rokani agar bisa mendapatkan panel surya. Dengan begitu, beban hidup mereka bisa berkurang dan mereka tetap bisa bertahan di tengah kerusakan lingkungan yang semakin parah,” ujarnya.
Kerusakan pesisir Demak memang semakin mengkhawatirkan. Hilangnya hutan mangrove, pembangunan yang tidak ramah lingkungan, serta eksploitasi alam mempercepat abrasi dan membuat banyak desa tenggelam. Warga kecil seperti Mak Jah menjadi kelompok yang paling terdampak dan terpinggirkan.
Meski demikian, Mak Jah tetap menyimpan harapan. Ia bermimpi memiliki penerangan yang layak tanpa harus membeli bensin setiap hari, akses air bersih, tempat tinggal yang aman, hingga membangun rumah panggung yang lebih tinggi untuk menghadapi terjangan ombak. Yang terpenting, ia ingin terus menjaga mangrove yang diyakininya sebagai penyelamat masyarakat pesisir.
Untuk mewujudkan itu, Puspita Bahari mengajak masyarakat luas bersolidaritas membantu pengadaan paket panel surya bagi keluarga Mak Jah.
Dukungan dapat disalurkan melalui: Rekening BRI a/n KPN Puspita Bahari: 588601069775530, Hotline Puspita Bahari: +62 852-9093-2662.
Mak Jah berharap, dengan bantuan energi terbarukan–dapat terus bertahan sekaligus menjaga lingkungan yang menjadi sumber kehidupan masyarakat pesisir Demak. (Sam)
