Puluhan Ribu Demonstran Banjiri Jantung Uni Eropa

20220623_042120

BRUSSELS – Sebagaimana diberitakan SINDOnews bahwa berlangsung unjuk rasa yang diorganisir serikat pekerja diikuti 70.000 hingga 80.000 demonstran pada Senin (20/6/2022).
Mereka memadati jalan-jalan di Brussel, jantung Uni Eropa (UE), membuat kota itu macet. Selain mengekspresikan kemarahan atas meningkatnya biaya hidup di Belgia, banyak yang mengutuk aliansi NATO yang dipimpin Amerika Serikat (AS) dan keterlibatannya dalam konflik Ukraina.
“Serikat pekerja mengatakan 80.000 orang menghadiri protes, sementara polisi mengatakan jumlah demonstran mendekati 70.000,” ungkap laporan Reuters.
Rute angkutan umum di sekitar kota juga beroperasi dengan kapasitas yang berkurang drastis. Inflasi mencapai 9% di Belgia pada Juni, tertinggi dalam empat dekade. Dengan daya beli menurun, pengunjuk rasa menuntut kenaikan gaji dan pemotongan pajak.

Namun, banyak yang mengaitkan kesulitan ekonomi mereka dengan rezim sanksi Uni Eropa terhadap Rusia dan langkah terburu-buru aliansi NATO untuk mempersenjatai Ukraina.
Para pengunjuk rasa menuntut agar para pemimpin mereka “menghabiskan uang untuk gaji, bukan untuk senjata,” dan meneriakkan “setop NATO.” Meski protes serupa terhadap kenaikan biaya telah terjadi di seluruh Eropa akhir-akhir ini, ribuan anggota serikat pekerja yang berunjuk rasa di London pada Sabtu hanya sedikit yang mengaitkan kenaikan harga dengan tindakan NATO dan anggotanya. Hanya tiga bulan yang lalu, beberapa pengunjuk rasa di Brussel mengibarkan bendera Ukraina dan menuntut agar UE memutuskan hubungan dengan “Minyak Putin.” Beberapa pekan sebelumnya, ada demonstrasi di luar gedung Parlemen Eropa yang menyerukan “sanksi untuk Rusia.” Brussels adalah rumah bagi markas besar Uni Eropa dan NATO. Itu juga kota tempat Presiden AS Joe Biden memilih mengumumkan putaran sanksi terhadap Moskow pada Maret, sebelum segera memberi tahu seorang wartawan bahwa “sanksi tidak pernah menghalangi” mereka yang menjadi sasarannya. Meskipun Barat memprediksi pada April bahwa langkah-langkah sanksi akan “menghapus 15 tahun terakhir keuntungan ekonomi Rusia,” pendapatan energi Rusia telah mencapai tingkat rekor sejak Februari. (Sumber SINDOnews)