PKH Sayung Gelar Napak Tilas dan Rakor Bersama Camat di Makam Syeh Mudzakir

IMG-20240306-WA0110

Korkab PKH Demak bersama Seksi Kesra dan Korcam PKH Sayung beserta jajarannya ziarah di Makam Syekh Mudzakir. Foto: Ist.

ARUSUTAMA.com – Sebagai bentuk penghormatan dan pengenalan budaya lokal, Program Keluarga Harapan (PKH) kecamatan Sayung kabupaten Demak melakukan ziarah ke makam Syeh Mudzakir, salah satu ulama dan tokoh spiritual yang memiliki pengaruh besar di pesisir Demak. Ziarah ini dilakukan dengan menggunakan perahu, perahu tradisional yang menjadi ciri khas masyarakat pesisir.

Ziarah ini juga diikuti oleh Rapat Koordinasi (Rakor) bersama Camat Sayung dan perwakilan pemerintah kecamatan. Dalam rakor tersebut, dibahas berbagai isu dan program pemerintahan yang berkaitan dengan PKH, seperti bisnis proses, kebijakan, dan alokasi dana.

Koordinator kabupaten PKH Demak, Musyafak, mengatakan bahwa Rakor ini merupakan cara yang berbeda dan menarik untuk meningkatkan kesejahteraan dan keberkahan peserta PKH.

“Kami mendukung kegiatan ini karena dengan pola berbeda, semoga dengan ditempat yang baik ini tempatnya makam wali kedepannya bisa membawa keberkahan dan lebih baik lagi,” kata Musyafak kepada Arusutama.

Ia juga menyampaikan bahwa PKH memiliki berbagai program yang dapat membantu peserta PKH menjadi lebih mandiri dan berdikari, seperti program kube PKE, bantuan Pena, dan lain-lain.

“Meliputi kube PKE untuk demak mendapatkan alokasi 46 kube, sedangkan wilayah sayung dapat 8 kube, dan juga KPM berdikari lewat bantuan Pena agar supaya KPM PKH bisa sejahtera kedepannya,” ujarnya.

Camat Sayung, Sukarman, yang diwakili oleh Seksi Kesra, Saean, menyambut baik dan mengapresiasi kegiatan ini. “Saya berharap bisa dirutinkan apel wajib setiap hari senin, dan terus melakukan koordinasi secara rutin kepada Kesra. Saya juga berdoa semoga PPKH Sayung tambah sukses dan jaya kedepannya,” katanya.

Selain itu, Koordinator kecamatan PKH Sayung, Agus Romli, menjelaskan bahwa ziarah ke makam Syeh Mudzakir dan menyisir sungai menggunakan perahu ke dukuh Senik yang masih wilayah Bedono atau Morosari adalah cara untuk mengenalkan dan melestarikan budaya lokal kepada para peserta PKH. “Ini adalah cara untuk mengenalkan dan melestarikan budaya lokal kepada para peserta PKH,” tuturnya.

Ia berharap agar PKH dapat mengambil hikmah dan teladan dari Syekh Abdullah Mudzakir, yang dikenal sebagai sosok yang zuhud dan dianggap keramat karena tidak terkikis diterjang pasang surut air laut atau masyarakat percaya makam itu mengapung dan tidak akan pernah tenggelam walau pasang air laut tinggi.

“Beliau adalah ulama yang sangat dihormati dan dicintai oleh masyarakat pesisir. Semasa hidupnya beliau melakukan syiar di wilayah pesisir dan sangat berjasa dalam pembangunan akhlak warga setempat, baik dalam ilmu agama maupun tradisi yang diajarkan. Semoga kita bisa meneladani beliau dan mendapatkan berkah dari beliau,” katanya. (Sam)