Tol Semarang-Demak: Dari Tanggul Laut, Destinasi Wisata hingga Konservasi Lingkungan

IMG_20240497_155454329

Sketsa gambar jalan Tol Semarang-Demak yang juga sebagai fungsi tanggul laut. Foto: Dok. untuk Arusutama

ARUSUTAMA.com – Dengan penyelesaian dua dari tiga sesi konstruksi, proyek jalan tol Semarang-Demak kini memasuki fase penting. Sesi terakhir ini melibatkan kolaborasi antara perusahaan lokal dan tiga perusahaan China, menandai kemajuan penting dalam kerjasama internasional.

“Kami bangga dengan kemajuan yang telah dicapai dalam pembangunan tol laut ini,” ujar Humas CRBC Wika PP, Robby Sumarna.
“Dengan adanya dua kolam retensi di Terboyo dan Sriwulan, kami melihat potensi besar untuk pengembangan wisata air yang dapat dikelola oleh pemerintah daerah,” imbuh Robby, Sabtu (6/4/2024).

Lebih lanjut, Robby menjelaskan bahwa Sesi 1A, yang dikerjakan oleh Hutama Karya dan BUCG, serta Sesi 1C oleh Adhi Karya dan Sinohydro, berjalan seiring dengan pembangunan tol laut di Sesi 1B oleh CRBC, PT Wika, dan PT. PP. Kolam retensi yang berlokasi di Terboyo dan Sriwulan, masing-masing dengan luas 225 hektar dan 35 hektar serta kedalaman 4 meter, menawarkan peluang untuk menjadi area resapan air yang menarik.

“Kolam-kolam ini tidak hanya berfungsi sebagai infrastruktur penting, tetapi juga sebagai potensi wisata. Kami berharap pemerintah daerah dapat memanfaatkan kesempatan ini untuk menambah daya tarik Semarang,” tambah Robby.

Selain itu, pembuangan tanah atau disposal dari proyek ini diharapkan dapat mengembalikan lahan yang sebelumnya terendam menjadi darat, yang akan dimanfaatkan untuk penanaman mangrove atau difungsikan lain oleh masyarakat pemilik lahan setelah tanahnya yang semula terendam kembali menjadi darat Ini merupakan langkah maju dalam upaya konservasi lingkungan dan pencegahan banjir.

Proyek tol ini juga mencakup rencana konsesi selama 35 tahun oleh PT PPSD Semarang-Demak BUMN karya Kso antar PTPP dan PT WIKA yang akan mengelola jalan tol sebelum akhirnya dikembalikan ke negara. Pembangunan tol Semarang-Demak, yang merupakan salah satu yang termahal di Indonesia, menampilkan konstruksi sepanjang kurang lebih 27 KM, dengan 14 kilometer di atas tanah yang bergerak menggunakan methode slab on pile atau tiang pancang memerlukan perencanaan dan konstruksi yang cermat.

“Tidak ada risiko rob atau banjir pasang yang disebabkan oleh tol. Kami telah melakukan uji coba selama dua tahun di Sriwulan dan Trimulyo dan hasilnya menunjukkan bahwa tanggul yang ada cukup kuat untuk menahan rob,” tegas Robby.

Dengan kemajuan ini, tol Semarang-Demak diharapkan tidak hanya meningkatkan konektivitas tetapi juga memberikan manfaat ekonomi dan lingkungan yang berkelanjutan bagi masyarakat setempat. (Sam)