Solidaritas Perempuan Pesisir: Kiprah 19 Tahun Puspita Bahari di Demak

Puspita Bahari

Komunitas Perempuan Nelayan Puspita Bahari seusai gelar refleksi perjuangan 19 tahun di Gedung Wakil Bupati, Demak, Selasa (24/12). Foto: Sam

ARUSUTAMA.com – Komunitas Perempuan Nelayan Puspita Bahari merayakan 19 tahun eksistensinya dengan serangkaian kegiatan reflektif dan inspiratif. Acara ini menjadi ajang memperkuat perjuangan hak-hak perempuan pesisir melalui kolaborasi dengan Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya Universitas Islam Indonesia (UII) bertempat di Ballroom Lt.1 Gedung Wakil Bupati Demak, Selasa (24/12).

Acara yang meliputi pemutaran dan diskusi film, pelatihan pengasuhan anak, hingga pelatihan public speaking menjadi sarana untuk meningkatkan kapasitas perempuan nelayan. Ketua Puspita Bahari, Masnuah, menegaskan pentingnya kolaborasi ini yang telah berlangsung selama dua tahun, menghasilkan inisiatif signifikan, termasuk pembuatan film dokumenter perjuangan perempuan pesisir.

Peringatan puncak pada 25 Desember 2024 akan diisi dengan tasyakuran, doa bersama, dan refleksi perjalanan komunitas. Salah satu agenda utama adalah renovasi rumah komunitas di Morodemak, Bonang, yang sering terendam rob. Rumah ini akan ditinggikan satu meter untuk mengatasi dampak banjir.

“Solidaritas dari berbagai pihak memungkinkan kami membeli material untuk rumah panggung. Kami juga meluncurkan buku dan profil Puspita Bahari hasil kerja sama dengan University of Leeds, Inggris, untuk menyebarluaskan perjuangan kami,” ungkap Masnuah.

Namun, ia juga menyoroti kurangnya perhatian pemerintah terhadap perlindungan perempuan nelayan. Hingga kini, 31 perempuan nelayan di Demak belum memiliki akses asuransi yang memadai.

“Dulu ada Jasindo, tapi sekarang diarahkan ke BPJS Ketenagakerjaan, yang sayangnya tidak semua nelayan paham pentingnya asuransi,” tambahnya.

Sementara itu, Sekretaris Daerah Kabupaten Demak, Akhmad Sugiharto, yang turut hadir, menekankan pentingnya perlindungan asuransi bagi para nelayan.

“Kita tidak tahu kapan musibah datang. Asuransi itu penting untuk menjaga keamanan finansial keluarga nelayan,” ujarnya.

Acara ini ditutup dengan pemutaran dua film dokumenter bertajuk “Hari Kemerdekaan: Antara Air Mata dan Tawa” serta “Air yang Menetes di Riak-riak Sungai.” Diskusi yang menyusul diharapkan mampu meningkatkan kesadaran publik akan pentingnya mendukung perempuan nelayan dan menyelamatkan kawasan pesisir dari ancaman rob.

Komunitas Puspita Bahari terus menjadi teladan gerakan akar rumput, berkomitmen memperjuangkan hak-hak perempuan pesisir dan menciptakan pemimpin perempuan yang tangguh. Perjalanan 19 tahun ini menjadi bukti nyata kekuatan solidaritas dalam menghadapi tantangan besar. (Sm)