Banjir Parah di Sayung, Warga Kalisari Protes dengan Spanduk Sindiran

Beberapa spanduk protes warga yang terpasang di Balaidesa Kalisari, Sayung, Jumat (31/1). Foto: Sam
ARUSUTAMA.com – Hujan deras selama tiga hari berturut-turut menyebabkan banjir melanda beberapa desa di Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak. Desa yang terdampak parah antara lain Kalisari, Sayung, dan Loireng. Di Desa Kalisari, sekitar 250 rumah terendam banjir dengan ketinggian air mencapai 30-50 cm.
Sepanjang jalan yang tergenang hingga Balai Desa Kalisari, warga memasang spanduk-spanduk berisi protes terkait penanganan banjir. Beberapa di antaranya bertuliskan “Kinerjanya diperbaiki, bukan kritiknya yang dibatasi”, “Desa Langganan Banjir, Koe Kerjo Po Turu?”, dan “Wisata Baru Kalisari”.
Spanduk tersebut menggambarkan kekecewaan warga yang sudah bertahun-tahun menghadapi banjir tanpa solusi konkret.
Salah satu warga Kalisari, Nur Ali, menyebutkan bahwa penyebab utama banjir adalah gorong-gorong yang tersumbat, sehingga aliran air menjadi tidak lancar.
“Kami sudah kerja bakti membersihkan, tapi tetap saja banjir. Pembersihan terakhir baru sampai Balai Desa, belum selesai, hujan datang lagi,” ujarnya, Jumat (31/1/2025).
Ia juga menjelaskan bahwa gorong-gorong tersumbat oleh sampah dan diperparah oleh jembatan pendek yang menghambat aliran air.
Senada dengan Nur Ali, warga lainnya, Zaeni, mengungkapkan bahwa banjir di Kalisari sudah menjadi langganan, bahkan terjadi saat musim kemarau.
“Bahkan gak ada hujan aja banjir, apalagi hujan makin banjir. Akses jalan memang bisa dilewati, tapi banyak orang akhirnya memilih putar balik,” katanya.
Ia berharap pemerintah segera mengambil tindakan serius agar masalah ini tidak terus berulang setiap tahun.
Selain Desa Kalisari, hampir 80% wilayah Sayung juga tergenang air. Banjir melanda Dukuh Babadan, Sayung Lor, Sayung Kidul, Sayung Wetan, Sayung Kulon, Nglengkong, dan Ngepreh.
Di Desa Ngablaksari, sebagian wilayah juga terdampak. Total rumah yang terendam mencapai lebih dari 1.500 unit, dengan titik terdalam di RT 4 RW 6 Dukuh Ngepreh yang mencapai 1 meter.
Sementara itu, di Desa Loireng, sebanyak 996 rumah tergenang air dengan ketinggian 5-35 cm di dalam rumah dan 25-65 cm di jalan. Warga berharap pemerintah segera turun tangan untuk menangani banjir yang terus berulang ini.
“Di sini tanahnya rendah, air tidak bisa keluar ke mana-mana. Harus ada solusi seperti pompa air agar cepat surut,” tegas Zaeni. (Sm)
