54 Pabrik dan Triliunan Investasi Masuk Demak, Rob Bikin Investor Asing Ragu

Demak ramah investasi

Kepala DPMPTSP Demak, Umar Surya Suksmana, saat ditemui di ruang kerjanya membahas tren positif investasi yang terus meningkat di Kabupaten Demak, Senin (21/7/2025). Foto: Sam

ARUSUTAMA.com – Dalam lima tahun terakhir, iklim investasi di Kabupaten Demak, Jawa Tengah, menunjukkan tren yang sangat positif. Sejak tahun 2022, target dan realisasi investasi selalu tercapai bahkan melebihi 100 persen. Puluhan pabrik baru telah berdiri, membawa efek berganda (multiplayer effect) yang menguntungkan masyarakat.

Namun, persoalan rob dan ketersediaan air bersih masih menjadi penghambat utama masuknya investor besar.

Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Demak, Umar Surya Suksmana, menjelaskan bahwa peningkatan investasi terlihat dari masuknya banyak industri padat karya. Sejak 2022, setidaknya 27 pabrik besar telah berdiri di wilayah Demak.

“Setelah tahun 2022, ada 7 pabrik besar yang masuk ke Demak. Tahun 2023 bertambah 9 pabrik, 2024 ada 6 pabrik, dan hingga Juni 2025 sudah ada 5 pabrik lagi yang berdiri,” ungkap Umar saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (21/7/2025).

Industri yang masuk pun beragam, dari pengolahan benang, penyempurnaan kain, pembuatan roti, kosmetik, hingga motor listrik dan alat rumah tangga. Umar juga menyebut bahwa pada 2024 dan 2025 muncul pabrik-pabrik sektor baru seperti kerajinan kayu, ban kendaraan, plastik kemasan, hingga beton siap pakai.

“Industri yang masuk terus berkembang. Bahkan ada juga pabrik kosmetik, pasta gigi, barang dari kulit, mesin pendingin, hingga barang logam dan bangunan,” lanjutnya.

Kawasan industri Jateng Land di Demak pun mengalami perkembangan pesat. Saat ini terdapat 24 perusahaan yang telah beroperasi dengan target mencapai 36 perusahaan pada tahun 2026. Industri yang masuk mencakup sektor garment, baja, plastik, tas, tekstil, sepatu hingga properti.

Meski demikian, Umar tidak menampik masih ada satu masalah besar yang menjadi hambatan serius dalam menarik investor, yaitu masalah air rob dan air bersih. Persoalan ini bahkan sempat membuat investor dari Rusia dan Amerika Serikat mengurungkan niatnya berinvestasi di Demak.

“Masalah utama kami adalah air. Baik rob maupun air bersih. Ketika investor datang dan melihat banjir dan kemacetan, mereka mundur dan memilih daerah lain,” ujarnya.

Namun, ia menyampaikan kabar baik bahwa kawasan industri Jateng Land kini telah memiliki Surat Izin Pengusahaan Air Tanah (SIPA), sehingga air bersih bisa dikelola secara mandiri.

Data realisasi investasi sejak 2022 hingga 2025 menunjukkan pencapaian luar biasa, diantaranya adalah sebagai berikut. Pada tahun 2022: Target Rp1,03 triliun, realisasi Rp3,09 triliun (299%); 2023: Target Rp3,2 triliun, realisasi Rp3,51 triliun (110%); 2024: Target Rp3,2 triliun, realisasi Rp3,95 triliun (124%); 2025 (hingga Juni): Target Rp4,44 triliun, realisasi Rp2,41 triliun (54%).

Capaian tersebut terdiri dari Penanaman Modal Asing (PMA) dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN), dengan proporsi yang terus meningkat dari tahun ke tahun.

Menurut Umar, peningkatan investasi tidak hanya berdampak pada pendapatan daerah, tapi juga membuka peluang usaha bagi warga sekitar.

“Multiplayer effect-nya jelas terasa. Banyak masyarakat yang membuka usaha kos, laundry, makanan, dan kebutuhan lainnya. Ini yang kami harapkan, investasi yang berdampak langsung ke warga,” pungkasnya. (Sam)