Banjir Demak Berdampak 24.936 Jiwa, Pemkab Tetapkan Status Darurat

Alat berat dikerahkan untuk menangani tanggul jebol dan mempercepat normalisasi aliran sungai di Desa Kebonagung, Demak, Kamis (19/2/2026). Foto: Sm
ARUSUTAMA.com – Banjir yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Demak mulai berangsur surut. Pemerintah Kabupaten Demak memastikan penanganan darurat terus berjalan seiring upaya pemulihan wilayah terdampak dan penguatan tanggul sungai yang jebol akibat tingginya curah hujan.
Bupati Demak Eisti’anah menyampaikan, status darurat tanggap bencana telah ditetapkan agar seluruh unsur dapat bergerak cepat dan terkoordinasi.
“Dengan ditetapkannya status darurat, kami ingin semua pihak bisa bekerja bersama-sama, mulai dari OPD, Forkopimda, hingga relawan,” ujar Eisti’anah, hari-hari ini.
Menurutnya, sejak hari pertama kejadian, Pemkab langsung melakukan langkah cepat melalui rapat koordinasi dan peninjauan lapangan. Pemantauan dilakukan bersama unsur Forkopimda serta OPD terkait.
“Kemarin kami turun langsung ke lokasi dan berkoordinasi dengan berbagai pihak. Ini penting karena dampaknya lintas wilayah,” katanya.
Banjir dan jebolnya tanggul menyebabkan kerusakan infrastruktur, termasuk patahan jalan penghubung antara Demak, Grobogan, dan arah Semarang.
“Ada akses jalan vital yang terdampak. Kami harapkan penanganannya segera ditindaklanjuti agar mobilitas masyarakat, terutama menjelang Lebaran, tetap aman,” jelas Eisti’anah.
Koordinasi lintas daerah juga dilakukan dengan Pemerintah Kabupaten Kabupaten Grobogan guna memastikan penanganan berjalan terpadu dari hulu hingga hilir.
Seiring surutnya air, warga yang sebelumnya terdampak mulai kembali ke rumah masing-masing. Di Kecamatan Kebonagung dan sebagian wilayah Pilangwetan, aktivitas bersih-bersih masih berlangsung dengan melibatkan relawan dan aparat.
“Alhamdulillah air sudah mulai surut. Warga yang sempat mengungsi sudah kembali, meskipun masih dalam proses pembersihan rumah dan lingkungan,” ujar Bupati.
Pemkab Demak terus menyalurkan bantuan logistik meski saat ini pengungsi tercatat nihil.
“Setiap hari kami siapkan sekitar 2.500 porsi makanan, atau sekitar 7.500 porsi per hari. Bantuan ini tetap kami berikan sambil warga melakukan bersih-bersih,” tambahnya.
Fokus penanganan kini diarahkan pada penguatan tanggul dan pengendalian aliran air di beberapa titik rawan, seperti Sungai Cabean dan wilayah Guntur. Pemkab telah menginstruksikan penambahan alat berat untuk mempercepat penanganan.
“Kami minta alat berat ditambah agar pekerjaan penguatan tanggul bisa lebih cepat,” tegas Eisti’anah.
Pemkab juga terus berkoordinasi dengan BBWS terkait langkah normalisasi sungai.
“Untuk Sungai Babon direncanakan normalisasi pada 2026. Sementara Sungai Tuntang dan Cabean masih difokuskan pada penguatan tanggul yang jebol,” jelasnya.
Terkait opsi teknis seperti pelurusan atau pembelokan alur sungai, Eisti’anah menegaskan keputusan akan diambil berdasarkan kajian teknis.
“Ini tidak bisa gegabah. Kami menunggu pertimbangan dari BBWS dan tim teknis agar penanganannya tepat,” ujarnya.
Banjir dipicu intensitas curah hujan tinggi yang meningkatkan debit air dari wilayah hulu ke hilir. Jebolnya tanggul terjadi di beberapa titik, di antaranya Sungai Cabean serta wilayah Kebonagung.
Berdasarkan Infografis Bencana Banjir Kabupaten Demak per 19 Februari 2026, tercatat dampak terhadap ±7.382 KK atau 24.936 jiwa, ±6.368 rumah (pendataan), 36 tempat ibadah, 27 fasilitas pendidikan, 6 fasilitas kesehatan, 22 TPU, 858 hektare lahan pertanian, serta 7 hektare tambak ikan. Pengungsi tercatat nihil.
Pemkab Demak memastikan penanganan banjir akan terus dikawal hingga kondisi benar-benar aman dan aktivitas masyarakat kembali normal. (Sam)
