Di Tengah Tren Minuman Modern, Jamu Coro Tetap Eksis di Pasar Takjil Demak

Bahan-bahan jamu coro khas Demak, racikan rempah tradisional yang dipercaya menghangatkan tubuh dan menjadi favorit warga saat berbuka puasa di bulan Ramadan. Foto: ist.
ARUSUTAMA.com – Di tengah maraknya minuman modern yang membanjiri pasar takjil Ramadan, jamu coro, minuman tradisional khas Kabupaten Demak, tetap menunjukkan eksistensinya. Minuman berbahan rempah ini masih menjadi pilihan warga untuk berbuka puasa, terutama di kawasan Jalan Bhayangkara, Demak.
Menjelang waktu berbuka, kawasan tersebut dipadati masyarakat yang berburu takjil. Beragam kuliner tersedia, mulai dari gorengan, kolak, hingga minuman segar. Namun, jamu coro menjadi salah satu yang paling banyak dicari. Minuman ini dikenal telah ada sejak masa Kerajaan Demak dan dipercaya dahulu menjadi konsumsi kalangan istana.
Selain rasanya yang khas, jamu coro dinilai memiliki manfaat bagi tubuh. Kandungan rempah seperti jahe dan merica dipercaya dapat menghangatkan badan serta memulihkan stamina setelah seharian berpuasa. Dengan harga terjangkau, sekitar Rp3.000 hingga Rp4.000 per porsi, minuman ini mudah dijangkau berbagai kalangan.
Latif, salah satu penjual jamu coro di Jalan Bhayangkara, mengaku meneruskan usaha tersebut secara turun-temurun sejak neneknya. Selama Ramadan, ia berjualan setiap hari mulai pukul 14.30 WIB hingga menjelang Magrib.
“Dalam sehari bisa terjual ratusan porsi, terutama saat menjelang buka puasa,” ujarnya, Senin (23/2/2026).
Menurut Latif, sebagian besar pembeli merupakan pelanggan lama yang rutin datang setiap Ramadan. Mereka menyukai cita rasa jamu coro yang khas dan manfaatnya bagi kesehatan.
Salah seorang pembeli, Dwi Teguh, mengungkapkan jamu coro selalu menjadi pilihan utamanya saat berbuka.
“Rasanya hangat dan segar. Minuman ini cocok diminum setelah seharian menahan lapar dan dahaga,” katanya. (Sm)
