Derita Warga Pesisir Demak, Rumah Hilang Setelah Diterjang Tongkang

Seorang warga menunjuk ke arah laut di Dukuh Tambaksari, Sayung, Demak, lokasi rumahnya yang hancur setelah dihantam tongkang hanyut. Kini ia bersama keluarganya terpaksa mengungsi di masjid. Foto: ist.
ARUSUTAMA.com – Ramadan tahun ini menjadi ujian berat bagi Shokib, warga Dukuh Tambaksari, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak. Rumah yang selama ini ia bangun dengan susah payah hancur setelah dihantam kapal tongkang raksasa yang hanyut di perairan setempat.
Kini, rumah yang dulu menjadi tempat berlindung bagi keluarganya telah berubah menjadi puing bercampur air laut. Shokib bersama enam anggota keluarganya terpaksa mengungsi dan menghabiskan malam di masjid sejak kejadian tersebut.
“Tidur di masjid, sudah semingguan. Rumahnya dihuni tujuh orang, sekarang semuanya di masjid,” ujar Shokib dengan suara lirih, Sabtu (14/3/2026).
Di lokasi yang dulu berdiri rumahnya, Shokib hanya bisa menatap kosong ke arah laut. Tempat yang dulu dipenuhi tawa anak-anak dan kehangatan keluarga kini hanya menyisakan sisa bangunan yang rusak.
Ia mengatakan, rumahnya roboh setelah dihantam kapal tongkang raksasa yang hanyut akibat gelombang.
“Penyebabnya tongkang itu,” kata Shokib singkat sambil menunjuk ke arah kapal yang sempat hanyut di perairan tersebut.
Bagi Shokib, Ramadan yang seharusnya menjadi bulan penuh berkah justru berubah menjadi masa penuh kesedihan. Hari Raya Idul Fitri yang semakin dekat kini tak lagi terasa sama karena rumah tempat ia pulang telah hilang.
Setelah kapal tongkang tersebut akhirnya berhasil dievakuasi, Shokib mengaku sedikit lega. Namun ia berharap ada tanggung jawab yang jelas atas kerusakan yang dialami warga.
“Harapannya seperti semula, punya rumah lagi. Kalau tidak ada rumah ya susah, bingung,” ujarnya.
Kerusakan akibat insiden tersebut tidak hanya menimpa rumah warga. Sejumlah fasilitas umum di Dukuh Tambaksari juga mengalami kerusakan, termasuk akses jalan dan jembatan yang biasa digunakan warga dan pengunjung menuju wisata religi Makam Terapung Syekh Abdullah Mudzakir.
Padahal, kawasan tersebut biasanya ramai dikunjungi peziarah setelah Lebaran. Aktivitas ziarah itu menjadi sumber penghidupan bagi sebagian besar warga setempat.
“Yang bapak-bapak biasanya jadi pengojek perahu, yang ibu-ibu berjualan di rumah,” kata Marfuah, salah seorang warga Tambaksari.
Menurutnya, jumlah peziarah biasanya meningkat tajam saat Idul Fitri. Namun tahun ini kondisi berbeda karena jembatan penghubung dari permukiman warga menuju makam mengalami kerusakan.
“Soalnya peziarah biasanya lewat sini. Tapi sekarang jembatannya putus,” ujarnya.
Meski makam masih bisa diakses langsung menggunakan perahu, putusnya jembatan membuat sejumlah pedagang kehilangan kesempatan untuk berjualan kepada para peziarah.
“Dampaknya besar. Banyak yang tidak bisa jualan. Memang perahu bisa langsung ke makam, tapi tetap rugi karena peziarah tidak lewat sini,” tambahnya.
Sementara itu, pihak perusahaan pemilik kapal, PT Trans Logistik Perkasa, melalui surat pernyataan tertanggal 8 Maret 2026 menyatakan siap bertanggung jawab atas kerusakan yang terjadi.
Insiden tersebut terjadi pada 6 Maret 2026 ketika kapal tongkang BG Gold Trans 3008 hanyut setelah tali penariknya putus akibat cuaca buruk. Kapal tersebut kemudian menabrak sejumlah fasilitas di area makam serta beberapa rumah warga.
Dalam surat yang ditandatangani oleh perwakilan perusahaan, PT Trans Logistik Perkasa menyatakan akan melakukan perbaikan terhadap fasilitas area makam maupun pemukiman warga yang mengalami kerusakan hingga tercapai kesepakatan dengan para korban.
Kini, di tengah puing rumah dan infrastruktur yang rusak, warga Tambaksari hanya berharap kehidupan mereka bisa kembali pulih. Mereka ingin kembali memiliki rumah, memperbaiki mata pencaharian, dan menyambut hari raya dengan sedikit ketenangan setelah musibah yang datang di bulan suci Ramadan. (Sm)
