Kopi Poro, Warisan Rasa dari Kadilangu yang Membuat Rindu Setiap Seduhan

Proses tradisional pembuatan Kopi Poro Khas Kadilangu Demak. Foto: Sm
ARUSUTAMA.com – Di balik aroma khasnya, Kopi Poro bukan sekadar minuman, melainkan warisan budaya dari masa lampau yang hidup kembali melalui tangan Ika Febriani, salah satu peracik sekaligus penjual Kopi Poro asal Kadilangu.
Berawal dari obrolannya dengan Ndoro Yanti, ahli waris Kadilangu, Ika mulai membuka kembali cerita tentang Notobratan, kawasan di Kadilangu yang dulunya dikenal sebagai pusat pemerintahan sekitar tahun 1800-an. Pada masa itu, Notobratan menjadi tempat berkumpulnya para abdi dalem dari berbagai daerah, bahkan dari Jawa Timur. Tradisi menyajikan kopi setiap pagi dan sore pun telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan mereka.
“Setiap pagi dibunyikan lonceng sebagai tanda waktu minum kopi telah tiba. Kopi disajikan oleh abdi dalem dapur dengan penuh kehormatan,” cerita Ika saat ditemui di Pendopo Notobratan Kadilangu Demak, Selasa (13/5/2025).
Dari sanalah nama Kopi Poro berasal—singkatan dari Poro Ndoro, Poro Abdi Dalem, dan Poro Tamu. Racikannya pun unik, berbeda dari kopi pada umumnya. Kopi ini dicampur dengan beras ketan dan kelapa, menciptakan cita rasa khas yang gurih dan nagihi (bikin ketagihan). Menurut Ika, perpaduan ini lahir dari keterbatasan ekonomi masyarakat zaman dulu yang tak mampu membeli kopi murni, sehingga mereka mencampurnya dengan bahan lain yang terjangkau.
Dalam proses pembuatannya, Ika tetap mempertahankan cara tradisional. Kopi disangrai menggunakan kelapa dan beras, ditumbuk dengan alu, dan dimasak di atas tungku menggunakan wajan tanah liat dan sotil kayu. Sebagian kecil dari produksi dilakukan dengan bantuan grinder untuk efisiensi tenaga dan biaya.
“Kopi saya ambil dari berbagai daerah, yang terdekat dari Rahtawu. Kopi mentah saya proses sendiri—disangrai, ditumbuk, dan disaring. Tapi karena keterbatasan tenaga dan waktu, separuh saya proses manual, separuh pakai grinder,” ungkapnya.
Hingga kini, Kopi Poro belum dipasarkan secara luas dan masih dijual di sekitar Kadilangu. Dengan harga Rp25.000 per 100 gram, kopi ini ditawarkan dalam takaran yang telah Ika sesuaikan dengan resep warisan para abdi dalem. Rasa gurih dan uniknya berasal dari kelapa pilihan—tidak terlalu muda dan tidak terlalu tua—serta tingkat kegosongan sangrai yang rata dan pas.
Kopi Poro bahkan menjadi sajian khas dalam berbagai acara adat di Notobratan, seperti Catur Sasongko atau Hadilangu, di mana para tamu istimewa membeli kopi ini menggunakan kepeng sebagai simbol penghormatan terhadap tradisi.
Meski tantangan pemasaran masih dihadapi, Ika bertekad untuk terus melestarikan Kopi Poro sebagai warisan rasa dan budaya Kadilangu.
“Kopi ini bukan hanya soal minuman, tapi tentang sejarah, kearifan lokal, dan kenangan yang hidup dalam setiap seduhan,” pungkasnya. (Sm)
