20 Tahun Pengakuan UNESCO, Pameran Keris Demak Jadi Pusat Perhatian Kolektor Nusantara

Peserta memamerkan berbagai koleksi keris dan pusaka dalam Pameran Tosan Aji di Pendopo Satya Bhakti Praja, Demak, Rabu (26/11/2025). Foto: Sm
ARUSUTAMA.com – Pameran Keris (Tosan Aji) yang digelar di halaman Pendopo Satya Bhakti Praja Kabupaten Demak pada 25–27 November 2025 mendapat apresiasi tinggi dari para peserta dan kolektor pusaka dari berbagai daerah.
Kegiatan ini sebagai ruang edukasi sekaligus ajang pelestarian budaya, tepat pada momentum 20 tahun pengakuan keris sebagai warisan budaya tak benda oleh UNESCO.
Salah satu peserta pameran asal Mojokerto, Hartono Citranala, menilai pameran ini untuk mengenalkan Tosan Aji kepada masyarakat yang lebih luas.
“Acara ini sangat luar biasa karena mampu memperkenalkan budaya Tosan Aji secara lebih luas. Semoga makin banyak yang tertarik dan sering melihat langsung ragam pusaka Tosan Aji,” ujarnya, Rabu (26/11/2025).
Hartono menjelaskan, sebagian besar koleksi yang dipamerkan merupakan keris yang bisa dibeli langsung oleh pengunjung. Para pengrajin dan kolektor datang dari berbagai daerah, seperti Lombok, Malang, Mojokerto, hingga Yogyakarta.
Harga pusaka beragam, mulai Rp2 juta hingga Rp100 juta, bergantung pada usia, rancang bangun bilah, hingga karakter detailnya.
“Penentu harga itu biasanya dari rancang bangun bilahnya, usia keris, serta detail dan karakter pusakanya,” jelasnya.
Selain memamerkan keris, Hartono juga membawa Katga, pusaka tua dari masa Kahuripan yang bernilai sekitar Rp35 juta. Katga tersebut ditemukan di kawasan Brantas Kertosono dan dikenal sebagai salah satu bentuk pusaka tertua sebelum lahirnya keris modern.
Ia menyebut banyak pusaka ditemukan di sungai karena pada masa lampau sungai menjadi jalur pertempuran atau tempat melarung pusaka. Kini, pencarian pusaka bahkan menggunakan metal detector dan penyelaman dengan tabung oksigen.
Peserta lainnya, Saiful Hizam Ibrahim dari Lombok, juga membawa berbagai jenis pusaka, mulai keris, pedang, hingga tombak. Koleksinya dijual dengan harga Rp1 juta hingga Rp35 juta. “Yang paling mahal yang saya bawa ini Rp35 juta, full perak,” ungkapnya.
Saiful menyampaikan bahwa keris Lombok memiliki ciri khas tersendiri, terutama penggunaan kes bali. Koleksi yang ia bawa tidak hanya berasal dari Lombok, tetapi juga keris Bugis yang didapatkan dari wilayah Sumbawa, Dompu, dan Bima. Ia mengatakan sebagian besar pusaka diperoleh dari masyarakat lokal.
“Kita ada yang tukang nyarinya, kadang keliling ke desa-desa cari rumah yang mau menjual,” katanya.
Terkait keaslian pusaka, Saiful menuturkan bahwa karakter besi menjadi penentu utama. Dari tekstur dan tampilan, kolektor dapat membedakan antara pusaka sepuh dan pusaka kemardikan. Ia berharap pameran seperti ini terus berlanjut karena memberikan sudut pandang baru mengenai pusaka tradisional.
“Kita perkenalkan teknologi dan seni zaman dulu yang sebenarnya luar biasa. Harapannya, pameran seperti ini bisa diadakan lagi tahun depan untuk edukasi generasi muda,” pungkas Saiful. (Sm)
