Warga Bandungrejo Siap Gelar Aksi 3.000 Massa, Tuntut Pelebaran Jalan Menuju Makam Desa

Warga Bandungrejo berkumpul di depan pagar pembatas saat menyampaikan protes terkait akses jalan menuju makam yang dianggap terlalu sempit. Foto: ist.
ARUSUTAMA.com – Warga Desa Bandungrejo, Kecamatan Mranggen, berencana kembali menggelar aksi protes pada Jumat (12/12/2025) usai salat Jumat. Aksi ini melibatkan sekitar 3.000 warga dari RW 1 hingga RW 6 yang menuntut pembukaan pagar pembatas dan pelebaran akses jalan menuju makam desa yang dinilai terlalu sempit.
Menurut warga, jalan menuju makam saat ini hanya memiliki lebar sekitar 2 meter, sehingga menyulitkan mobilitas, terutama saat kegiatan ziarah atau acara yang melibatkan banyak orang.
“Jalan saat ini terlalu sempit, apalagi kalau ramai orang datang. Kami ingin akses ini diperlebar sampai 6 meter agar aman dan nyaman,” ujar salah satu warga yang ikut mempersiapkan aksi.
Warga berharap pemerintah daerah, terutama Dishub dan Dinas PUPR Kabupaten Demak, dapat merespons tuntutan mereka dengan bijak. Mereka menekankan bahwa aksi ini dilakukan bukan untuk membuat kericuhan, melainkan untuk menegaskan hak warga atas akses jalan yang memadai.
“Kalau keinginan warga dipenuhi, tidak akan ada masalah. Tapi kalau terus ditutup, kami harus bersuara lebih keras,” kata warga lainnya. Warga juga mencontohkan kasus serupa di Pondok Majapahit 1 yang akhirnya terselesaikan setelah aspirasi masyarakat dipenuhi.
Persiapan aksi telah diumumkan melalui masjid-masjid setempat, dan warga memastikan akan tetap tertib saat berunjuk rasa. Mereka berharap pemerintah desa serta pihak berwenang dapat duduk bersama untuk menemukan solusi yang adil bagi semua pihak.
Sementara itu, Kapolsek Mranggen, AKP Kumaidi, menyatakan pihaknya siap mengamankan jalannya aksi dan mengatur lalu lintas agar tidak terjadi kemacetan di jalur utama yang menghubungkan Kabupaten Grobogan dan Kota Semarang. Meski demikian, keputusan terkait pembatas jalan dan akses menuju gang makam hingga kini masih menunggu kebijakan resmi dari pengelola jalan.
Warga menegaskan bahwa aksi besar ini adalah bentuk upaya terakhir mereka untuk memastikan hak atas akses jalan desa dapat terpenuhi dengan baik dan aman bagi seluruh masyarakat. (Sm)
