Pesantren Girikesumo Mantapkan Diri sebagai Pelopor Pesantren Ramah Anak di Jawa Tengah

Suasana keakraban pengasuh Pesantren Girikesumo KH Munif Zuhri bersama Wagub Jateng Taj Yasin saat mengikuti rangkaian kegiatan halaqah, Jumat (12/12/2025). Foto: Sm
ARUSUTAMA.com – Pondok Pesantren Girikesumo di Kecamatan Mranggen, Kabupaten Demak, menegaskan komitmennya untuk menjadi pesantren ramah anak melalui penguatan sistem pembinaan, pendidikan, dan pengasuhan yang lebih humanis.
Komitmen ini mencuat dalam Halaqah Pesantren Aman, Nyaman, dan Ramah Anak yang digelar pada Jumat (12/12/2025) dan dihadiri Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen.
Sebagai salah satu pesantren besar di wilayah Demak, Girikesumo menegaskan bahwa lingkungan yang aman dan nyaman adalah fondasi utama untuk menumbuhkan akhlakul karimah serta kemampuan akademik santri.
Pengasuh pesantren menyampaikan bahwa upaya mencegah kekerasan dan memastikan kenyamanan santri sudah menjadi bagian dari nilai pendidikan pesantren sejak lama.
“Pesantren itu rumah kedua bagi santri. Kami berkomitmen menjadikan Girikesumo sebagai ruang tumbuh yang penuh kasih, aman, dan mendukung perkembangan anak,” ujar salah satu pengasuh Girikesumo dalam halaqah.
Wakil Gubernur Taj Yasin dalam kesempatan tersebut mengingatkan bahwa kasus kekerasan psikologis seperti bullying masih mendominasi dalam beberapa tahun terakhir.
Menanggapi hal itu, pesantren Girikesumo menegaskan bahwa pendekatan pendidikan yang mengedepankan dialog, pendampingan, dan pembinaan berjenjang menjadi prioritas utama.
“Santri senior sebagai pengurus kami bekali pemahaman agar pembinaan berjalan mendidik, bukan menekan. Nilai-nilai kesantunan tetap kami jaga,” lanjut pengasuh.
Selain pembinaan internal, pesantren juga tengah menyusun mekanisme pelaporan ramah anak yang memungkinkan santri menyampaikan keluhan secara aman tanpa rasa takut. Pendekatan psikologis dan pendampingan akan diperkuat melalui kolaborasi dengan pihak terkait.
Kepala Bidang Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kanwil Kemenag Jawa Tengah, Fatkhurronji, mengapresiasi langkah Girikesumo yang dinilai selangkah lebih maju dalam penerapan konsep pesantren ramah anak. Ia menyebut bahwa kenyamanan santri harus menjadi indikator utama keberhasilan pesantren di era modern.
“Pesantren ramah anak itu bukan hanya bangunannya, tapi seluruh proses pendidikan harus nyaman dan mendorong perkembangan santri,” ungkapnya.
Halaqah yang berlangsung hangat tersebut menjadi penting bagi Pesantren Girikesumo untuk menegaskan diri sebagai pesantren yang adaptif, terbuka, dan mengutamakan kesejahteraan santri tanpa menghilangkan kekhasan tradisi pesantren seperti kedisiplinan, ta’dzim, dan adab kepada guru. (Sm)
