Bincang 3 Kepala Daerah Bahas Tanggul Laut Hingga Pariwisata

DEMAK – Pasang laut yang dikenal dengan sebutan rob, kini sedikit banyak mulai ada solusi. Meski di banyak titik masih tergenang, utamanya saat dibarengi hujan ekstrim, namun keberadaan tanggul laut yang berfungsi sekaligus sebagai ruas tol Kendal – Semarang – Demak diharapkan mampu membawa kecerahan bagi warga dan daerah terdampak.
Persoalan khas kawasan pesisir itu menjadi bahasan hangat tiga kepala daerah pada ‘Bincang Siang’ yang disiarkan RSKW 104.8 FM dan life streaming di chanel YouTube Suara Kota Wali. Mereka adalah Bupati Demak dr Hj Eisti’anah, Walikota Semarang Hendrar Prihadi, serta Bupati Kendal Dico Mahtado Ganinduta.
Obrolan serius tapi santai dengan host Sekda Demak dr H Singgih Setyono dan anggota Dewan Pers Jayanto Arus Adi itu diawali paparan Eisti’anah tentang persoalan rob dan abrasi. Seperti diketahui, rob yang seakan tak berujung tersebut telah dua dekade menggenangi pesisir Demak.
Hingga akhirnya datang solusi dari pemerintah pusat berupa pembangunan tanggul laut. Yang sekaligus berfungsi sebagai ruas tol penghubung Semarang – Demak, dan direncanakan lanjut hingga Kendal.
“Targetnya tentunya tak hanya atasi rob dan abrasi di sepanjang pesisir Demak, adanya tanggul laut ini nantinya diharapkan mampu sebagai pengurai kemacetan lalulintas di jalur pantura Kaligawe – Sayung. Sebab difungsikan pula sebagai jalan tol Semarang – Demak,” ujar Bupati Eisti’anah, Senin (24/1).
Senada disampaikan Walikota Hendrar Prihadi, bahwa banjir termasuk rob telah merusak sekitar 53 persen ruas jalan di Kota Semarang. Banyak hal telah dilakukan mulai dari membenahi drainase, normalisasi sungai, hingga membangun bendungan dan polder lengkap dengan pompa. Namun finalnya pada pembangunan tanggul laut.
“Tapi seberapa kemampuan keuangan daerah mengatasinya? Maka itu lah pentingnya koordinasisi. Baik ke atas maupun ke samping. Terlebih sekarang ini jamannya kolaborasi, bukan lagi kompetisi. Maka adanya ruas tol nantinya harus dimanfaatkan pula semaksimal mungkin untuk memajukan daerah, lewat pariwisata misalnya,” urai Hendi, sapaan akrab Hendrar Prihadi.
Kerjasama di bidang pariwisata sangat berpotensi, ketika infrastruktur dan sarpras pendukung telah siap di masing-masing daerah. Artinya ketika ada wisatawan mendarat di Semarang, bisa diarahkan mengunjugi destinasi wisata religi di Demak dan Kendal. Untuk itu baik Demak maupun Kendal harus sudah siap dengan produk-produk ekonomi kreatif, sehingga berimbas menggeliatnya perekonomian lokal.
Berbeda dengan Demak dan Semarang yang berencana menghidupkan pariwisata seiring beroperasinya jalan tol tanggul laut,
Bupati Kendal Dico justru fokus pada pengembangan kawasan industri. Dikatakan, 5.000 hektar kawasan industri di Kendal yang 2.000 hektar di antaranya merupakan kawasan ekonomi khusus itu berada di wilayah pesisir.
“Maka itu kami lebih fokus pada pengembamgan industri. Namun demikian kolaborasi antar kabupaten – kota masih terbuka lebar, karena masih banyak destinasi wisata luar biasa di Kendal namun belum terekspos. Nah kebetulan di awal saya menjabat bupati pernah membicarakannya dengan mas Hendi. Tinggal ditindaklanjuti saja,” ungkap bupati yang masih bujang itu.
Dari pembicaraan tiga kepala daerah itu, diharapkan adanya kelanjutan berupa kerjasama. Di antaranya seperti memberikan tempat di kawasan Kota Lama Semarang yang kini menjadi unggulan destinasi wisata bernuansa vintage, bagi produk UMKM Demak dan Kendal. Sehingga setelah dikenal para wisatawan yang datang, mereka tertarik pula mengunjungi destinasi-destinasi wisata di Demak maupun Kendal. (Sri)
