Iring-iringan Prajurit Patangpuluhan dan Tradisi Penjamasan Pusaka Memukau Ribuan Warga Demak

IMG-20240617-WA0058

Iring-iringan prajurit Patangpuluhan yang mengawal Adipati Demak dan Uborampe penjamasan pusaka menuju Makam Sunan Kalijaga, Senin (17/6). Foto: Ist.

ARUSUTAMA.com – Ribuan masyarakat tumpah ruah di sepanjang jalan raya dari Pendopo Kabupaten Demak hingga Makam Sunan Kalijaga untuk menyaksikan iring-iringan prajurit Patangpuluhan yang mengawal Adipati Demak (Bupati) beserta uborampe penjamasan pusaka. Acara ini merupakan puncak dari grebeg besar yang selalu dinantikan masyarakat setiap tahunnya.

Prosesi yang berlangsung pada Senin (17/6), ini merupakan bagian dari tradisi penjamasan pusaka Kanjeng Sunan Kalijaga dan ziarah yang selalu diadakan setiap tanggal 10 Dzulhijjah. Acara ini telah menjadi agenda wisata budaya dan seni tahunan di Kabupaten Demak.

Prosesi dimulai dengan penyerahan bokor berisi kembang setaman oleh Adipati Bintoro Demak (Bupati Demak Eisti’anah) kepada Ki Lurah Tamtomo. Bokor tersebut kemudian dibawa ke Kadilangu oleh 40 prajurit pilihan untuk diserahkan kepada Sesepuh Ahli Waris Kanjeng Sunan Kalijaga sebagai perlengkapan ziarah dalam prosesi penjamasan pusaka.

Dalam iring-iringan tersebut, Bupati bersama Forkopimda dan pejabat lainnya mengenakan pakaian adat Jawa; wanita memakai kebaya dan pria menggunakan beskap. Mereka menaiki dokar menuju makam Sunan Kalijaga untuk melaksanakan ziarah. Iring-iringan ini juga dimeriahkan oleh berbagai pertunjukan seni, seperti Barongan Cahyo Utomo, Hadroh Zahrol Ulum Madinah, Rebana Nurun Nabi, Carnival Silvi, Drumband Dadung Awuk, Tari Keprajuritan, Rebana MAN Demak, dan Barongan Kademangan.

Kepala Dinas Pariwisata Endah Cahya Rini menjelaskan bahwa rombongan forkopimda dan pejabat berhenti di gapura Makam Kanjeng Sunan Kalijaga untuk melaksanakan ziarah, sementara prajurit Patangpuluhan yang dipimpin Ki Lurah Tamtomo dan Prawiro Tamtomo melanjutkan perjalanan menuju pendopo Notobratan untuk menyerahkan uborampe tersebut kepada ahli waris Kanjeng Sunan.

Pada malam sebelumnya, Minggu (16/6), telah diadakan iring-iringan tumpeng songo (9) dari Pendopo Kabupaten menuju Serambi Masjid Agung Demak. Tahun ini, selain tumpeng 9, juga terdapat gunungan hasil bumi sebanyak 90, sehingga totalnya 99, melambangkan Asmaul Husna. “Intinya ini untuk berbagi berkah kepada seluruh masyarakat di Demak,” ujar Endah.

Pada malam yang sama, di Kasepuhan Kadilangu juga diadakan tradisi ancakan, yaitu sedekah kasepuhan Kadilangu untuk para peziarah di malam Idul Adha. Nasi ancakan adalah menu khusus yang hanya disajikan setahun sekali, terdiri dari nasi putih dengan urapan daun mengkudu serta lauk ikan asin bakar, disajikan menggunakan daun jati dan alas anyaman bambu.

“Kami menyiapkan 521 nasi ancakan sesuai dengan usia Kabupaten Demak yang ke-521 tahun. Tradisi ini bahkan kami daftarkan di Museum Rekor Indonesia (MURI),” pungkas Endah.