Desa Timbulsloko Tenggelam, Penyandang Disabilitas Terisolasi Tanpa Akses Layak

Desa Tenggelam

Komnas Perempuan dan Puspita Bahari saat kunjungi rumah Turiyah di Desa Timbulsloko Sayung Demak. Foto: ist

ARUSUTAMA.com – Komnas Perempuan melakukan kajian krisis iklim dalam konteks kekerasan berbasis gender terhadap perempuan dan kelompok rentan di empat wilayah. Salah satu wilayah yang dikaji adalah Desa Timbulsloko, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak. Kajian ini melibatkan Puspita Bahari sebagai mitra lokal yang bertugas melakukan penelitian di lapangan.

Desa Timbulsloko dipilih karena fenomena tenggelamnya desa akibat krisis iklim. Kajian ini bertujuan untuk memahami pengalaman perempuan dan kelompok rentan yang terdampak kondisi tersebut. Puspita Bahari melakukan wawancara dengan berbagai pihak, termasuk perwakilan pemerintah, swasta, aparat penegak hukum, serta perempuan penyintas, lansia, disabilitas, dan kelompok rentan lainnya.

Salah satu temuan utama dari kajian ini adalah terputusnya akses masyarakat terhadap layanan publik, yang semakin memperburuk kondisi penyandang disabilitas yang terisolasi.

Ketua Puspita Bahari, Masnuah, menjelaskan bahwa kajian ini mengungkap bentuk-bentuk kekerasan berbasis gender yang dialami oleh masyarakat pesisir, terutama di desa yang mulai tenggelam.

“Dari kajian ini, kami menemukan sosok Turiyah dan Agus Priyanto, dua penyandang disabilitas yang terjebak dalam kondisi sulit dan membutuhkan dukungan komprehensif dari pemerintah daerah. Dukungan itu bukan hanya berupa bantuan sembako, tetapi juga fasilitas lain seperti akses jalan, layanan kesehatan, serta pengakuan identitas sebagai warga Dukuh Timbulsloko,” ujarnya, Sabtu (22/3/2025).

Turiyah, seorang perempuan disabilitas berusia 39 tahun, menjadi salah satu contoh dampak krisis iklim terhadap kelompok rentan. Ia mengalami kelumpuhan sejak 2009 akibat kecelakaan. Sejak Dukuh Timbulsloko mulai tenggelam pada 2010, ia tidak pernah keluar dari rumah karena tidak adanya akses jalan yang layak bagi pengguna kursi roda. Akibatnya, Turiyah hanya bisa beraktivitas di dalam kamar, bahkan berdagang dari tempat tidurnya.

Puspita Bahari berupaya mengadvokasi hak-hak Turiyah, termasuk kepemilikan KTP sebagai bagian dari identitasnya sebagai warga negara. Menanggapi hal ini, Komnas Perempuan memberikan dukungan penuh atas upaya advokasi yang dilakukan.

“Komnas Perempuan mengapresiasi langkah responsif Dukcapil Demak yang mendatangi Dukuh Timbulsloko untuk melakukan perekaman KTP bagi penyandang disabilitas sebagai bentuk pemenuhan hak dasar warga negara,” ungkap Siti Aminah Tardi, Komisioner Komnas Perempuan.

Baru-baru ini, setelah menerima surat permohonan dari desa, Dukcapil Demak turun langsung ke Dukuh Timbulsloko untuk melakukan perekaman KTP bagi Turiyah dan Agus Priyanto di rumah masing-masing. Selain itu, Dinas Sosial P2PA Kabupaten Demak memberikan bantuan sosial usaha ekonomi produktif (UEP) sebesar Rp1.100.000 setiap tiga bulan untuk mendukung keberlangsungan hidup mereka.

Selain isu disabilitas, kajian ini juga mengungkap dampak krisis iklim terhadap perempuan nelayan. Mereka harus menanggung beban ganda ketika desa mereka mulai tenggelam, termasuk berusaha sendiri untuk meninggikan rumah agar tetap layak huni.

Namun, hingga saat ini, belum ada pendataan yang terpilah bagi kelompok rentan seperti nelayan, perempuan nelayan, lansia, disabilitas, dan anak-anak. Akibatnya, mereka sering tidak mendapatkan hak-hak dasar seperti akses kesehatan dan pendidikan.

“Puspita Bahari melihat masih ada pekerjaan rumah besar bagi pemerintah dalam melakukan pendataan masyarakat rentan. Kami berharap ada komitmen kuat dari berbagai pihak agar tidak ada lagi kelompok yang terpinggirkan,” pungkasnya.