Tenggelam di Tengah Rob, Potret Nestapa dan Harapan Warga Timbulsloko Demak

Kondisi Dukuh Timbulsloko yang hidup dikelilingi laut dan berdampingan dengan rob hingga jalanan berubah jadi jembatan, Kamis (19/6). Foto: Sam
ARUSUTAMA.com – Tenggelam perlahan namun pasti. Itulah gambaran kondisi Desa Timbulsloko, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, yang hingga kini masih terus berjuang bertahan hidup di tengah kepungan air rob dan abrasi laut.
Kepala Desa Timbulsloko, Nadhiri, mengungkapkan kisah pilu dan perjuangan warga desa yang sejak lebih dari satu dekade terakhir hidup berdampingan dengan air.
“Setiap hari, kami bergelut dengan air. Tidak ada tanah liat lagi, semuanya tergenang. Di satu RW saja ada 5 RT dengan 140 kepala keluarga yang hidup dalam kondisi seperti ini sejak 10 tahun lalu,” ujar Nadhiri saat ditemui di Kantornya, Kamis (19/6/2025).
Sejak tahun 2010, warga kehilangan hampir seluruh lahan pertanian dan tambaknya akibat naiknya permukaan air laut secara tiba-tiba. Dalam satu malam, kawasan produktif tersebut berubah menjadi lautan air asin yang tak bisa ditanami.
“Dulu kami bisa ambil ikan pakai sepeda motor, mobil kol masih bisa lewat. Tapi setelah rob tahun 2010, semuanya tenggelam,” kenang Nadhiri.
Warga Timbulsloko sebenarnya sempat direlokasi oleh pemerintah. Namun, karena faktor ekonomi dan keterbatasan usia produktif, banyak dari mereka yang kembali ke kampung halaman.
“Di atas umur 40 tahun susah cari kerja. Di pabrik tidak diterima, bangunan tidak kuat, sawah juga sudah tidak ada yang bisa digarap. Akhirnya balik lagi ke sini,” katanya.
Saat ini, satu-satunya harapan ekonomi mereka adalah hasil tangkapan laut.
“Kalau air pasang tinggi, malah warga bersyukur karena ikan bisa masuk ke pemukiman. Mereka pakai jaring dan ‘cebak naga’ untuk menangkap ikan,” tambahnya.
Ironisnya, meski kehilangan lahan, sumber air bersih, dan akses ekonomi, kondisi Timbulsloko belum diakui sebagai bencana lingkungan oleh pemerintah. Padahal sejak tahun 80-an, desa ini dikenal sebagai sentra pertanian dan perikanan yang makmur.
“Dulu kami bisa jual padi, cabai, jagung, kelapa, sampai daun pisang. Tapi sekarang semua hilang,” ujarnya miris.
Upaya untuk mengembangkan solusi seperti rumah apung pun sempat ditawarkan, namun tidak semua warga mampu karena keterbatasan dana. Bantuan dari pemerintah senilai Rp50 juta per unit dinilai belum cukup untuk membangun hunian layak. Beruntung, kerjasama dengan Perkim dan SIP Jogja telah membuahkan hasil dengan dibangunnya rumah apung serta bantuan modal untuk budidaya kerang, kepiting, dan bandeng.
“Kami masih terus diperhatikan oleh SIP. Bahkan kemarin juga dari Provinsi dan Bank Jateng ada bantuan Rp85 juta per unit rumah apung. Tapi masih banyak yang belum tersentuh,” jelas Nadhiri.
Kini, di tengah kondisi lingkungan yang semakin tergerus, warga Timbulsloko hanya berharap perhatian serius dan solusi nyata dari pemerintah.
“Kami tidak minta banyak, hanya ingin diakui dan dibantu agar bisa hidup layak di tanah kami sendiri,” tutupnya. (Sam)
