Sipon Tak Mampu Tampung Debit Air, BNPB Ajukan Perbaikan Rp110 Miliar untuk Tekan Banjir Demak

Kepala BNPB Suharyanto memberikan keterangan kepada media saat meninjau lokasi banjir di Kabupaten Demak, terkait langkah penanganan darurat dan rencana solusi jangka panjang. Foto: Sm
ARUSUTAMA.com – Keterbatasan kapasitas saluran air atau sipon di wilayah Kecamatan Gajah dinilai menjadi salah satu penyebab utama banjir berulang di Dukuh Kedung Banteng, Desa Wonorejo, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Demak.
Kondisi tersebut mendorong Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengajukan perbaikan infrastruktur kepada Kementerian Pekerjaan Umum (PU) dengan kebutuhan anggaran sekitar Rp110 miliar.
Berdasarkan data pemantauan di lapangan, genangan air terjadi akibat tingginya curah hujan, kapasitas sipon yang tidak lagi memadai, serta tersumbatnya aliran oleh sedimen dan sampah. Dampaknya, permukiman warga, akses jalan, hingga lahan persawahan di Kecamatan Karanganyar terdampak banjir.
Kepala BNPB Suharyanto mengatakan, penanganan banjir dilakukan melalui dua pendekatan, yakni jangka pendek dan jangka panjang.
“Untuk jangka pendeknya kita lakukan pemompaan dan pengerahan alat berat untuk mengeruk sampah agar aliran air bisa kembali lancar,” ujar Suharyanto saat meninjau lokasi banjir di Demak, Sabtu (17/1/2026).
Ia menjelaskan, solusi jangka panjang akan ditempuh dengan melaporkan kondisi sipon tersebut kepada Kementerian PU agar dilakukan peningkatan kapasitas saluran.
“Segera akan kita laporkan ke Kementerian PU supaya sipon ini dibuat lebih besar dan mampu menampung debit air saat hujan deras,” katanya.
Data BNPB mencatat, banjir Demak pada tahun 2026 tidak separah kejadian tahun 2024 lalu yang dipicu jebolnya tanggul Sungai Wulan di wilayah Norowito. Setelah dilakukan normalisasi oleh Kementerian PU, Sungai Wulan tidak lagi menimbulkan banjir besar pada periode 2025–2026.
Meski demikian, genangan masih terjadi di sejumlah wilayah cekungan akibat keterbatasan drainase. Kondisi ini berpotensi mengganggu aktivitas masyarakat serta menyebabkan lahan pertanian terendam dan terancam gagal panen.
Wakil Bupati Demak, Muhammad Badruddin, menyebut kurang optimalnya fungsi sipon di Kecamatan Gajah menjadi salah satu faktor dominan penyebab banjir di Karanganyar.
“Perhatian kita terhadap banjir di Karanganyar ini salah satunya karena fungsi sipon yang kurang optimal. Tadi sudah kami sampaikan kepada Pak Suharyanto, semoga ke depan ada perhatian agar banjir tidak terulang lagi,” ujarnya.
Selain penanganan infrastruktur, BNPB juga mengerahkan tiga armada pesawat untuk melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Jawa Tengah. Langkah ini dilakukan menyusul data curah hujan tinggi dalam dua pekan terakhir Januari 2026 yang memicu bencana hidrometeorologi di sejumlah daerah.
“Kami mengerahkan tiga armada pesawat, dua dari BNPB dan satu dari pemerintah provinsi, untuk Operasi Modifikasi Cuaca. Tujuannya mengurangi intensitas hujan agar tidak lebat hingga ekstrem,” kata Suharyanto.
BNPB berharap, penguatan infrastruktur drainase yang didukung pengendalian curah hujan serta kolaborasi lintas sektor dapat menekan risiko banjir dan meminimalkan dampaknya terhadap masyarakat serta sektor pertanian di Kabupaten Demak. (Sm)
