Lisah Sepuh Kadilangu: Jejak Spiritualitas Perempuan dan Warisan Sunan Kalijaga

Penyerahan lisah sepuh oleh perwakilan trah Sunan Kalijaga kepada tokoh adat di Gedung Pangeran Widjil, Kadilangu, Demak, Selasa (28/4/2026), sebagai bagian dari rangkaian ritual penjamasan pusaka menjelang Iduladha. Foto: ist.
ARUSUTAMA.com – Di tengah arus modernitas, sebuah tradisi tua tetap terjaga di Kadilangu, Kabupaten Demak, Jawa Tengah. Selasa (28/4/2026), perempuan-perempuan dari trah Sunan Kalijaga kembali menjalankan ritual pembuatan lisah sepuh, sebuah minyak sakral yang menjadi bagian penting dalam perawatan pusaka peninggalan sang wali.
Bertempat di Gedung Pangeran Widjil, prosesi berlangsung dalam suasana hening dan sarat makna. Para perempuan yang terlibat mengenakan pakaian putih dan merupakan mereka yang telah memasuki usia menopause–sebuah syarat adat yang dipercaya melambangkan kematangan batin dan kesucian diri.
Lisah sepuh bukan sekadar minyak biasa. Ia menjadi medium dalam penjamasan dua pusaka penting, yakni keris Kyai Carubuk dan baju Kotang Ontokusumo, yang secara rutin dilakukan setiap 10 Dzulhijah, bertepatan dengan momentum Iduladha.
Rangkaian ritual diawali dengan kirab menuju makam Sunan Kalijaga. Keluarga besar berjalan bersama, dikawal pasukan Bergadha Ghandhalangu, membawa kelapa sebagai bahan utama. Doa dipanjatkan di makam sebagai simbol permohonan restu kepada leluhur sebelum proses inti dimulai.
Kembali ke Gedung Pangeran Widjil, tahapan pembuatan lisah sepuh dilakukan secara kolektif. Abdi dalem membantu proses awal, sementara perempuan trah Sunan Kalijaga memarut kelapa dan memasak santan hingga menghasilkan minyak. Proses panjang ini dijalani dengan kesabaran, diiringi lantunan selawat yang menggema pelan.
Ketua Lembaga Adat Kadilangu, Raden Agus Supriyanto, menyebut tradisi ini sebagai amanah yang tak terpisahkan dari ajaran Sunan Kalijaga. Menurutnya, setiap detail dalam proses pembuatan lisah sepuh memiliki makna simbolik yang dalam.
Mulai dari jumlah pembuat yang harus ganjil, kewajiban berpuasa, hingga pemilihan kelapa yang tidak boleh jatuh ke tanah, semua menjadi bagian dari laku spiritual yang menyertai ritual ini. Bahkan, hari pelaksanaan pun dipilih secara khusus, yakni Selasa Kliwon atau Anggoro Kasih, yang diyakini memiliki kekuatan spiritual dalam tradisi Jawa.
Sementara itu, Juru Kunci Makam Sunan Kalijaga, Raden Edi Mursalin, menegaskan bahwa lisah sepuh adalah representasi dari nilai “kesepuhan”–sebuah fase kehidupan yang sarat kebijaksanaan dan kedekatan dengan Sang Pencipta.
“Arah kelapa pun tidak sembarangan. Barat melambangkan kiblat, sementara utara berkaitan dengan leluhur. Semua ini adalah simbol yang diwariskan dan terus dijaga,” ungkapnya.
Tradisi lisah sepuh menjadi pengingat bahwa warisan budaya tidak hanya hidup dalam bentuk benda, tetapi juga dalam praktik, nilai, dan keyakinan yang terus dirawat lintas generasi.
Lisah sepuh yang telah dibuat nantinya akan digunakan dalam prosesi penjamasan pusaka Sunan Kalijaga pada 10 Dzulhijah 1447 Hijriah, yang diperkirakan jatuh pada 27 Mei 2026.
