Eisti’anah Dorong Pesantren Demak Jadi Contoh Pengelolaan Sampah Berkelanjutan

Bupati Demak Eisti'anah saat berikan sambutan dalam pelatihan pengelolaan sampah di Ponpes Nurul Azhar, Kebonagung, Demak, Rabu (11/9). Foto: ist
ARUSUTAMA.com – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Demak terus berupaya mengurangi volume sampah yang dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dengan memperbanyak tempat pengolahan dan daur ulang sampah di sumbernya. Hal ini menjadi langkah penting dalam mengatasi masalah sampah yang semakin kompleks.
Bupati Demak, Eisti’anah, menegaskan bahwa permasalahan sampah tidak hanya dialami oleh Kabupaten Demak, tetapi juga daerah lain di Indonesia.
“Permasalahan sampah semakin kompleks. Kita tidak sendirian, daerah lain pun mengalami hal yang sama,” ujar Eisti’anah saat membuka pelatihan pengelolaan sampah berbasis masyarakat di Pondok Pesantren Nurul Azhar, Kecamatan Kebonagung, Rabu (11/9).
Ia mengingatkan bahwa Kabupaten Demak pernah menghadapi situasi darurat sampah akibat kekurangan kapasitas di TPA, yang disebabkan oleh terus meningkatnya jumlah penduduk dan produksi sampah. Oleh karena itu, Pemkab Demak berkomitmen untuk mengurangi sampah sejak dari sumbernya.
“Sebanyak apapun lahan TPA yang disediakan, tanpa upaya pengurangan sampah dari sumbernya, lahan tersebut akan segera penuh,” ungkapnya.
Meskipun Pemkab Demak telah memperluas lahan TPA di Berahan Kulon, Eisti’anah memperkirakan kapasitasnya akan habis dalam 20-25 tahun jika tidak ada langkah pengurangan sampah.
Sebagai bagian dari upaya mengatasi masalah ini, Pemkab Demak terus mengedukasi masyarakat tentang pentingnya memilah sampah. Eisti’anah menargetkan setiap desa bisa mencapai zero sampah dengan memilah dan mengelola sampah secara mandiri.
“Sampah yang terpilah dapat menghasilkan keuntungan ekonomi. Sampah non organik bisa dijual, sementara sampah organik bisa diolah menjadi pupuk kompos atau eko enzim,” jelasnya.
Program pelatihan pengelolaan sampah berbasis masyarakat ini tahun ini menyasar pondok pesantren, yang memiliki jumlah santri ratusan dan menghasilkan banyak sampah. Hingga saat ini, sudah tujuh pondok pesantren yang dilibatkan dalam program tersebut.
“Kami berharap pondok pesantren dapat menjadi pelopor dalam penerapan prinsip hidup bersih dan ramah lingkungan. Dengan mengelola sampah secara mandiri, volume sampah di TPA akan berkurang secara signifikan,” tambahnya.
Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Azhar, Ahmad Arif, menyambut baik inisiatif pelatihan ini. Ia berharap pelatihan ini dapat mengubah kebiasaan santri dalam mengelola sampah di lingkungan pondok.
“Kami juga berharap Pemkab dapat membantu dengan menyediakan peralatan yang dibutuhkan untuk melanjutkan program ini,” ungkapnya.
Melalui program ini, Pemkab Demak berharap tidak hanya dapat mengurangi sampah yang dibuang ke TPA, tetapi juga mendorong pola hidup bersih dan ramah lingkungan di masyarakat, khususnya di lingkungan pondok pesantren.
